Kamis, 30 Januari 2014

Hasil dan Prospek Leon Trotsky (1906)



X. Perjuangan Merebut Kekuasaan[1]

Di hadapan kita adalah sebuah selebaran mengenai program dan taktik kami yang berjudul: “Tugas-Tugas Yang Dihadapi Kaum Proletar Rusia – Sebuah Surat Kepada Kamerad-Kamerad di Rusia”. Dokumen ini ditandatangani oleh P. Axelrod[2], Astrov, A. Martynov, L. Martov dan S. Semkovsky.
Masalah revolusi digarisbawahi di dalam ‘surat’ ini secara sangat umum; kejelasan dan ketelitian di dalam analisa menghilang seiring dengan berpalingnya para penulis surat ini dari penjelasan situasi yang diciptakan oleh peperangan (Perang Dunia Pertama – Ed.) ke prospek politik dan kesimpulan taktikal; terminologi menjadi cair dan definisi sosial menjadi ambigu.
Dari luar negeri, tampaknya ada dua mood yang mendominasi: pertama, kekhawatiran akan pertahanan nasional – dari keluarga Romanov[3] sampai ke Plekhanov[4] – dan kedua, ketidakpuasan universal – dari oposisi birokratis Fronde sampai ke kerusuhan-kerusuhan massa di jalanan. Dua mood ini juga menciptakan sebuah ilusi akan sebuah kebebasan popular di masa mendatang yang akan lahir dari pertahanan nasional. Tetapi kedua mood ini bertanggungjawab terhadap ketidakjelasan dalam analisa masalah ‘revolusi popular’, bahkan ketika masalah ini dibandingkan dengan ‘pertahanan nasional’.
Peperangan ini sendiri, dengan kekalahan-kekalahannya, belumlah menciptakan problem revolusioner atau kekuatan-kekuatan revolusioner untuk menyelesaikannya. Bagi kita, sejarah tidaklah mulai dari penyerahan Warsaw ke tangan Pangeran Bavaria. Kontradiksi-kontradiksi revolusioner dan kekuatan-kekuatan sosial masihlah sama seperti yang kita temui pertama kalinya pada 1905, yang hanya termodifikasi dengan sangat besar selama 10 tahun sesudahnya. Peperangan ini hanya menunjukkan secara mekanikal dan secara jelas kebangkrutan objektif rejim ini. Pada saat yang sama, peperangan ini telah membawa kebingungan ke dalam kesadaran sosial massa, dimana ‘setiap orang’ tampaknya terinfeksi oleh hasrat untuk melawan Hindenburg[5] dan juga terinfeksi oleh kebencian terhadap rejim 3 Juni[6]. Tetapi seiring dengan kenyataan bahwa organisasi dari ‘perang rakyat’ sejak awal sudah berhadapan dengan polisi-polisi Tsar, dan oleh karenanya menunjukkan bahwa Rejim 3 Juni ini adalah sebuah kenyataan dan ‘perang rakyat’ ini adalah sebuah fiksi, sehingga ‘revolusi rakyat’ yang semakin mendekat ini terbentur dengan polisi sosialis Plekhanov, yang bersama-sama dengan kelompoknya akan tampak seperti sebuah fiksi bila di belakangnya tidak berdiri Kerensky, Milyukov, Guchkov, dan umumnya kaum demokrat-nasional dan kaum liberal-nasional yang non-revolusioner dan anti-revolusioner.
‘Surat’ tersebut tentu saja tidak bisa mengabaikan divisi kelas di dalam bangsa, atau bahwa bangsa ini harus menyelamatkan dirinya dari konsekuensi-konsekuensi peperangan dan rejim hari ini melalui revolusi. “Kaum nasionalis, kaum Oktober[7], kaum progresif, kaum Kadet[8], kaum industrialis, dan bahkan sebagian (!) kaum intelektual radikal bersama-sama menyatakan bahkan para birokrat tidak mampu membela bangsa ini, dan menuntut mobilisasi kekuatan-kekuatan sosial untuk pertahanan bangsa ini …” Surat tersebut menarik kesimpulan yang tepat akan karakter anti-revolusioner dari posisi tersebut, yang berarti “persatuan dengan para penguasa Rusia sekarang, dengan kaum birokrat, kaum ningrat, dan para jendral, demi pertahanan Negara.” Surat tersebut juga menunjukkan dengan tepat karakter anti-revolusioner dari “semua kaum patriot-borjuis dengan berbagai warna”; dan boleh kita tambahkan, karakter anti-revolusioner dari kaum patriot-sosial, yang tidak disebut sama sekali di dalam surat tersebut.
Dari sini, kita harus menarik kesimpulan bahwa partai Sosial-Demokrat bukan hanya partai revolusioner yang paling logis, tetapi partai ini juga adalah satu-satunya partai revolusioner di negeri ini; bahwa, di sekeliling mereka terdapat bukan hanya partai-partai yang kurang tegas dalam mengimplementasi metode-metode revolusioner, tetapi juga partai-partai non-revolusioner. Dalam kata lain, di dalam caranya yang revolusioner dalam mengedepankan masalah-masalah politik, Partai Sosial-Demokrat cukup terisolasi di arena politik terbuka, walaupun terdapat ketidakpuasan rakyat yang universal. Kesimpulan pertama ini harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati.
Tentu saja, partai bukanlah kelas. Antara posisi sebuah partai dan kepentingan strata sosial yang ia wakilkan, mungkin terdapat sebuah ketidakharmonisan tertentu yang kemudian dapat berubah menjadi kontradiksi yang tajam. Aksi sebuah partai dapat berubah di bawah pengaruh emosi massa. Ini tidak dapat dibantah. Di dalam perhitungan kami, semakin banyak alasan bagi kami untuk berhenti mengandalkan elemen-elemen yang kurang stabil dan kurang dipercaya seperti slogan-slogan dan taktik-taktik sebuah partai, dan mengandalkan faktor-faktor historis yang lebih stabil: struktur sosial bangsa, relasi kekuatan-kekuatan kelas dan tendensi-tendensi perkembangan revolusi.
Akan tetapi, para penulis ‘surat’ tersebut menghindari pertanyaan-pertanyaan ini sepenuhnya. Apa ‘revolusi rakyat’ Rusia tahun 1915 ini? Para penulis surat tersebut hanya mengatakan kepada kita bahwa revolusi rakyat ini ‘harus’ diciptakan oleh kaum proletar dan demokrasi. Kita tahu apa itu proletariat, tetapi apa ‘demokrasi’ ini? Apakah ini adalah sebuah partai politik? Dari yang sudah dipaparkan di atas, jelas-jelas bukan. Lalu, apakah ini adalah rakyat? Rakyat apa? Jelas-jelas bagi para penulis surat tersebut ini adalah kaum borjuasi industri-kecil dan komersil-kecil, kaum intelektual dan kaum tani.
Di dalam sebuah rangkaian artikel berjudul “Krisis Peperangan dan Prospek-Prospek Politik”, kita telah memberikan sebuah estimasi umum mengenai kemungkinan revolusioner dari kekuatan-kekuatan sosial ini (kaum borjuasi industri-kecil dan komersil-kecil, kaum intelektual dan kaum tani – Ed.). Berdasarkan pengalaman revolusi yang lalu, kita selidiki perubahan-perubahan terhadap relasi kekuatan-kekuatan sosial selama sepuluh tahun ini semenjak 1905: apakah perubahan-perubahan inimendukung demokrasi (baca demokrasi borjuis) atau melawannya? Ini adalah pertanyaan sejarah yang utama untuk menentukan prospek revolusi dan taktik kaum proletar. Apakah demokrasi borjuis di Rusia telah menjadi lebih kuat semenjak 1905, atau ia justru menjadi lebih lemah? Semua diskusi-diskusi kita sebelumnya berkutat seputar masalah nasib demokrasi borjuis, and mereka yang masih tidak mampu menjawab pertanyaan ini adalah mereka yang meraba-raba di dalam kegelapan. Kita jawab pertanyaan ini dengan menyatakan bahwa sebuah revolusi borjuis nasional adalah mustahil di Rusia karena tidak terdapat demokrasi borjuis revolusioner yang sejati. Waktu untuk revolusi nasional telah lewat – setidaknya untuk Eropa – seperti halnya waktu untuk peperangan nasional telah lewat. Antara satu dengan yang lainnya ada sebuah koneksi yang inheren. Kita hidup di sebuah era imperialisme yang bukanlah hanya sebuah sistem penaklukan koloni, tetapi juga sebuah rejim yang pasti di negeri asalnya. Ini tidak membuat kaum borjuasi nasional bertentangan dengan rejim yang lama, tetapi membuat kaum proletar bertentangan dengan kaum borjuasi nasional.
Para artisan borjuis kecil dan pedagang borjuis kecil memainkan peran yang kecil di dalam revolusi 1905. Tidak dapat dibantah bahwa bobot sosial dari kelas ini telah menurun lebih jauh selama 10 tahun terakhir ini. Kapitalisme di Rusia memukul kelas-kelas menengah dengan lebih radikal dan lebih parah dibandingkan di negeri-negeri dengan perkembangan ekonomi yang lebih tua. Jumlah kaum intelektual telah meningkat, dan peran ekonominya juga telah meningkat. Tetapi pada saat yang sama, bahkan ‘kemandirian’ mereka yang maya, yang mereka miliki sebelumnya, telah menghilang sepenuhnya. Bobot sosial mereka sepenuhnya ditentukan oleh fungsinya dalam mengorganisir industri kapitalis dan opini publik borjuis. Hubungan materialnya dengan kapitalisme telah merendam mereka dengan tendensi-tendensi imperialis. Seperti yang sudah dikutip, ‘surat’ tersebut mengatakan: “bahkan sebagian kaum intelektual … menuntut mobilisasi kekuatan-kekuatan sosial untuk pertahanan bangsa”. Ini sama sekali tidak benar, bukan sebagian, tetapi seluruh kaum intelektual radikal. Bahkan, bukan hanya seluruh kaum intelektual radikal, tetapi juga cukup banyak atau sebagian besar kaum intelektual sosialis. Dengan mengekspos karakter kaum intelektual, kita sama sekali tidak menaikkan prestige ‘demokrasi’.
Oleh karena itu, bobot sosial dari kaum borjuasi industrial dan komersil telah menurun bahkan lebih jauh dan pada saat yang sama kaum intelektual telah meninggalkan posisi revolusioner mereka. Demokrasi urban sebagai sebuah faktor revolusioner tidak pantas disebut sama sekali. Tinggal kaum tani yang tersisa, tetapi sejauh yang kita ketahui, Axelrod dan Martov tidak pernah punya harapan besar terhadap peran revolusioner independen mereka. Apakah mereka telah mencapai kesimpulan bahwa divisi kelas yang tidak pernah berhenti di antara kaum tani selama 10 tahun terakhir ini telah meningkatkan peran revolusioner mereka? Pemikiran semacam ini merupakan kontradiksi terhadap semua kesimpulan teori dan semua pengalaman sejarah.
Tetapi, bila demikian, ‘demokrasi’ macam apa yang dimaksud oleh surat tersebut? Dan apa yang mereka maksud dengan ‘revolusi rakyat’?
Slogan majelis konstituante mensyaratkan sebuah situasi revolusioner. Apakah ada situasi semacam ini? Ya, tetapi ini tidak terekspresikan di dalam kelahiran sebuah demokrasi borjuis yang mereka kira telah siap dan mampu berhadapan dengan Tsarisme. Sebaliknya, bila ada satu hal yang telah ditunjukkan dengan jelas oleh perang ini, yakni bahwa tidak akan sebuah demokrasi revolusioner di dalam negeri ini.
Usaha rejim 3 Juni untuk menyelesaikan masalah-masalah revolusi internal dengan jalan imperialisme telah mengakibatkan sebuah kegagalan yang jelas. Ini bukan berarti bahwa partai-partai yang bertanggungjawab atau setengah bertanggungjawab akan rejim 3 Juni ini akan mengambil jalan revolusi. Tetapi ini berarti bahwa masalah revolusi yang terkuak secara terbuka oleh malapetaka militer ini, yang akan mendorong kelas penguasa lebih jauh ke jalan imperialisme, melipatgandakan signifikansi satu-satunya kelas yang revolusioner di negeri ini.
Rejim 3 Juni ini tergoncang, tercabik-cabik oleh pertentangan dan konflik internal. Ini bukan berarti kalau kaum Oktober dan Kadet mempertimbangkan masalah kekuasaan revolusioner dan bersiap-siap merebut posisi kaum birokrat dan kaum ningrat. Tetapi ini berarti bahwa kekuatan pemerintah untuk melawan tekanan revolusioner niscaya telah melemah untuk sementara.
Monarki dan birokrasi telah terdiskreditkan, tetapi ini bukan berarti mereka akan menyerah tanpa sebuah perlawanan. Pembubaran Duma dan perombakan kabinet terakhir ini menunjukkan kepada siapa saja yang meragukan kebenaran dari asumsi ini. Tetapi ketidakstabilan politik birokrasi, yang akan menjadi semakin tidak stabil, akan benar-benar membantu mobilisasi revolusioner kelas proletar oleh kaum Sosial Demokrat.
Kelas-kelas bawah di kota-kota dan desa-desa akan menjadi semakin lelah, tertipu, tidak puas, dan marah. Ini bukan berarti bahwa sebuah kekuatan demokrasi revolusioner yang independen akan beroperasi berdampingan dengan proletar. Tidak ada basis sosial dan kepemimpinan untuk kekuatan semacam itu. Tetapi ini niscaya berarti bahwa ketidakpuasan yang dalam dari kelas-kelas bawah ini akan membantu tekanan revolusioner dari kelas proletar.
Semakin kaum proletar tidak menunggu kehadiran demokrasi borjuis, maka semakin mereka tidak beradaptasi pada kepasifan dan limit-limit kaum borjuasi kecil dan kaum tani, semakin tegas dan keras perjuangannya, semakin jelas kesiapannya untuk berjuang ‘hingga akhir’ (yakni hingga perebutan kekuasaan), dan semakin besar kesempatannya pada momen-momen yang menentukan untuk menarik massa non-proletar ke belakangnya. Tentu saja kita tidak akan mencapai apapun hanya dengan memajukan slogan-slogan seperti “penyitaan tanah”, dsb. Ini terutama sangat benar dalam hal meraih dukungan tentara, yang menentukan jatuh bangunnya sebuah pemerintah. Massa tentara hanya akan mendukung kelas revolusioner bila mereka yakin kalau kelas tersebut tidak hanya mengeluh dan berdemonstrasi, tetapi kelas tersebut berjuang untuk merebut kekuasaan dan punya peluang untuk menang. Ada masalah objektif revolusioner di negara ini – yakni masalah kekuasan politik – yang telah terpapar secara jelas oleh peperangan dan kekalahan-kekalahan perang. Ada kekacauan yang semakin besar di dalam tubuh kelas penguasa. Ada ketidakpuasan yang semakin besar di antara massa-rakyat perkotaan dan pedesaan. Tetapi satu-satunya faktor revolusioner yang dapat memanfaatkan kesempatan dari situasi ini adalah kaum proletar – dan sekarang kesempatan tersebut lebih besar dibandingkan pada 1905.
Dalam satu kalimat, ‘surat’ tersebut tampaknya mendekati poin utama dari masalah ini. ‘Surat’ tersebut menyatakan bahwa kaum buruh Sosial Demokrat Rusia harus “memimpin perjuangan nasional ini untuk menggulingkan rejim 3 Juni”. Apa arti “perjuangan nasional” ini sudah kita indikasikan. Akan tetapi bila “memimpin” bukan sekedar berarti bahwa kaum buruh yang maju harus menumpahkan darah mereka tanpa bertanya untuk tujuan apa, tetapi itu berarti bahwa kaum buruh harus mengambilkepemimpinan politik dari seluruh perjuangan, yang di atas segalanya akan menjadi sebuah perjuangan proletariat, maka jelaslah bahwa kemenangan dari perjuangan ini harus mentransfer kekuasaan ke kelas yang telah memimpin perjuangan ini, yakni kaum proletar Sosial-Demokrat.
Oleh karena itu, masalah ini bukan hanya sekedar masalah “pemerintahan provisional revolusioner” – sebuah frase kosong yang harus diberikan isi oleh proses sejarah – tetapi adalah masalah “pemerintahan buruh revolusioner”, masalah perebutan kekuasaan oleh kaum proletar Rusia. Tuntutan-tuntutan untuk membentuk majelis konstituante nasional, membentuk republik, 8-jam kerja, penyitaan tanah dari para tuan tanah, bersama dengan tuntutan-tuntutan untuk segera menghentikan perang, menjamin hak tiap-tiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri, dan pembentukan sebuah Uni Eropa akan memainkan peran agitasi yang besar bagi kaum Sosial Demokrat. Tetapi revolusi adalah pertama-tama mengenai kekuasaan – bukan mengenai bentuk negara (majelis konstituante, republik, serikat bangsa) tetapi mengenai konten sosial dari negara tersebut. Tuntutan-tuntutan untuk pembentukan majelis konstituante dan penyitaan tanah di bawah situasi sekarang ini akan kehilangan semua makna revolusionernya tanpa kesiapan kaum proletar untuk berjuang demi perebutan kekuasaan. Karena bila kaum proletar tidak merebut kekuasaan dari tangan monarki, maka pihak yang lain akan melakukan ini.
Tempo dari proses revolusi ini adalah sebuah masalah khusus. Ini tergantung pada faktor-faktor militer dan politik, nasional dan international. Faktor-faktor ini dapat memperlambat atau mempercepat perkembangan revolusi, dapat membantu kemenangan revolusi atau menyebabkan kekalahan revolusi. Tetapi apapun kondisinya, kaum proletar harus melihat dengan jelas jalan yang harus ditempuhnya dan menempuhnya dengan sadar. Dan di atas segalanya, ia harus bebas dari ilusi-ilusi. Dan ilusi terburuk dalam seluruh sejarahnya, yang sampai sekarang masih diderita oleh kaum proletar, adalah ilusi ketergantungan pada orang lain.

Catatan
[1] Bab ini disadur dari artikel saya di koran Nashe Slovo di Paris, 17 Oktober, 1915 – L.T.
[2] Pavel Axelrod (1850-1928) adalah salah satu pendiri Kelompok Emansipasi Buruh, yang bersama Plekhanov adalah pelopor gerakan Marxis awal di Rusia. Saat perpecahan Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia, dia bergabung dengan faksi Menshevik.
[3] Keluarga Romanov adalah keluarga dinasti terakhir di Rusia, yang menguasai Rusia dari 1613 hingga 1917, dimana kerajaan Tsar Nicholas II ditumbangkan oleh Revolusi Oktober 1917.
[4] Georgi Plekhanov (1856-1918) adalah Bapak Marxisme Rusia. Dia adalah salah satu pendiri organisasi Marxis pertama di Rusia: Kelompok Emansipasi Buruh. Dianggap oleh Lenin sebagai gurunya, dia pada akhirnya berseberangan dengan Lenin mengenai masalah Revolusi Rusia 1917, dan menentang Revolusi Oktober.
[5] Paul von Hindenburg (1947-1934) adalah seorang Jendral dari Jerman di Perang Dunia Pertama, yang lalu menjadi presiden Jerman dari 1925-1934.
[6] Pada 3 Juni 1907, Perdana Menteri Stolypin menangkap 55 deputi Sosial Demokrat dan membubarkan parlemen Duma, dan lalu menulis ulang hukum elektoral yang memberikannya keunggulan. Rejim ini lalu dikenal sebagai Rejim 3 Juni
[7] Persatuan 17 Oktober yang anggotanya dikenal sebagai kaum Oktober, adalah sebuah organisasi kaum borjuasi besar.
[8] Partai Kadet adalah partainya kaum borjuasi liberal Rusia. Walaupun mereka menentang monarki Tsar, tetapi mereka tidak pernah serius melawannya. Selama Revolusi Februari 1917, partai Kadet beberapa kali mencoba untuk menyelamatkan monarki namun gagal. Setelah Revolusi Oktober 1917, mereka memobilisasi Tentara Putih dengan bantuan 21 negara imperialis untuk menyerang Uni Soviet.
[9] Artisan adalah kelompok pengrajin-tangan dan penyedia jasa pada Zaman Pertengahan, yang merupakan kelompok produsen mayoritas sebelum revolusi industri.

Hasil dan Prospek Leon Trotsky (1906)



IX. Eropa dan Revolusi

Pada Juni 1905, kita menulis:
“Lebih dari setengah abad telah berlalu semenjak 1848, setengah abad dimana kapitalisme dengan tak henti-hentinya menaklukkan seluruh dunia; setengah abad adaptasi mutual antara kekuatan reaksi borjuis dan kekuatan reaksi feodalisme; setengah abad dimana kaum borjuasi telah menampakkan nafsu gilanya untuk mendominasi dan kesiapannya untuk berjuang secara kejam untuk dominasi ini.”
“Seperti halnya seorang pencari gerak-kekal (perpetual motion)[1] yang selalu menemui halangan-halangan yang baru dan menumpuk mesin-mesin untuk mengatasi halangan-halangan ini, kaum borjuasi juga telah mengubah dan merekonstruksi aparatus negaranya sembari menghindari konflik ‘ekstra-legal’ dengan kekuatan-kekuatan yang melawannya. Tetapi seperti halnya pencari gerak-kekal yang akhirnya menghadapi sebuah halangan yang tak bisa dia atasi (hukum konservasi energi), kaum borjuasi juga menghadapi sebuah halangan yang tidak dapat dia atasi: antagonisme kelas, yang harus diselesaikan dengan konflik.”
“Dengan mengikat semua bangsa-bangsa dengan sistem produksinya dan sistem perdagangannya, kapitalisme telah mengubah seluruh dunia menjadi sebuah organisme ekonomi dan politik yang tunggal. Seperti halnya sistem kredit moderen mengikat ribuan perusahaan dengan ikatan-ikatan yang tak-terlihat dan memberi kapital sebuah mobilitas yang luar biasa yang mencegah banyak kebangkrutan kecil tetapi pada saat yang sama menyebabkan sapuan krisis ekonomi yang menyeluruh, maka seluruh usaha ekonomi dan politik kapitalisme, perdagangan dunianya, sistem hutang negaranya yang luar biasa besar, dan kelompok-kelompok politik yang menyatukan semua kekuatan reaksi ke dalam sebuah perusahaan saham-gabungan global, bukan hanya telah mencegah krisis-krisis politik individual, tetapi juga telah mempersiapkan basis untuk sebuah krisis sosial yang besarnya sama sekali belum pernah terdengar. Mendorong semua penyakit ke bawah karpet, menghindari semua kesulitan, menunda semua permasalahan politik internal dan internasional yang penting, dan tidak mengindahkan semua kontradiksi, kaum borjuasi telah berhasil menunda hari-akhirnya, dan maka dari itu telah mempersiapkan sebuah likuidasi radikal dan global terhadap kekuasaannya. Kaum borjuasi telah dengan serakah merangkul setiap kekuatan reaksioner tanpa mempertanyakan asal-usulnya. Paus Katolik dan Sultan adalah sahabatnya. Satu-satunya alasan mengapa kaum borjuasi tidak membentuk hubungan ‘persahabatan’ dengan Kaisar Cina adalah karena dia tidak mewakili kekuatan apapun. Lebih menguntungkan bagi kaum borjuasi untuk menjarah daerah-daerahnya Kaisar Cina daripada mempertahankannya sebagai pelayan mereka dan membayarnya dengan hartanya sendiri. Maka dari itu, kita telah saksikan bagaimana kaum borjuasi dunia sangat mengandalkan kelompok-kelompok pra-borjuis reaksioner yang tidak stabil untuk menjaga kestabilan sistem Negara mereka sendiri.”
“Ini segera memberikan peristiwa-peristiwa yang sekarang sedang bergulir sebuah karakter internasional, dan membuka sebuah prospek yang luas. Emansipasi politik Rusia yang dipimpin oleh kelas buruh akan mengangkat kelas ini ke ketinggian yang tak pernah terdengar di dalam sejarah, akan memberinya kekuatan dan sumberdaya-sumberdaya yang luar biasa besar, dan akan membuatnya menjadi inisiator likuidasi kapitalisme dunia, dimana sejarah telah menciptakan semua kondisi objektif untuk ini.”[2]
Bila kaum proletar Rusia, setelah meraih kekuasaan secara sementara, tidak membawa revolusi ini ke tanah Eropa dengan inisiatifnya sendiri, maka ia akan dipaksauntuk melakukan hal ini oleh kekuatan reaksi feodal-borjuis Eropa. Tentu saja akan sia-sia bila kita sekarang mencoba menentukan metode-metode bagaimana Revolusi Rusia akan menyerang kelas kapitalis Eropa. Metode-metode ini mungkin akan menampakkan diri mereka dengan tidak disangka-sangka. Mari kita ambil contoh negeri Polandia sebagai jembatan penghubung antara revolusi di Timur dan revolusi di Barat, walaupun kita mengambil contoh ini hanya sebagai ilustrasi gagasan kita dan bukan sebagai prediksi yang sesungguhnya.
Kemenangan revolusi di Rusia akan berarti kemenangan tak-terelakkan dari revolusi di Polandia. Tidaklah sulit untuk membayangkan bagaimana keberadaan sebuah pemerintahan revolusioner di sepuluh provinsi Polandia Rusia akan menyebabkan pemberontakan di Galicia (Eropa Tengah – Ed.) dan Poznan. Pemerintahan Hohenzollern dan Habsburg akan merespon ini dengan mengirim pasukan militer ke perbatasan Polandia, supaya kemudian bisa menyeberangi perbatasan ini untuk menghancurkan musuhnya di pusatnya – yakni kota Warsaw. Cukup jelas kalau revolusi Rusia tidak dapat membiarkan garda-depan Baratnya jatuh ke tangan tentara Prusso-Austria. Perang melawan pemerintahan Wilhem II dan Franz Josef[3] di bawah situasi seperti ini akan menjadi sebuah aksi bela-diri pemerintahan revolusioner Rusia. Apa yang akan menjadi sikap kaum proletar Austria dan Jerman? Jelas bahwa mereka tidak akan tetap tenang di saat tentara-tentara negeri mereka melakukan peperangan kontra-revolusioner. Sebuah perang antara Jerman yang feodal-borjuis dan Rusia yang revolusioner secara tak-terelakkan akan menyebabkan sebuah revolusi proletar di Jerman. Kita akan katakan kepada mereka-mereka yang merasa bahwa pernyataan ini terlalu kategorikal (pasti) untuk mencoba membayangkan peristiwa sejarah lain yang akan lebih mungkin mendorong kaum buruh Jerman dan kaum reaksioner Jerman untuk mengadu kekuatan secara terbuka.
Ketika kabinet Oktober[4] kita tiba-tiba menetapkan hukum darurat militer di Polandia, sebuah rumor beredar bahwa ini dilakukan di bawah instruksi langsung dari Berlin. Sebelum pembubaran Duma[5], koran-koran pemerintah mempublikasikan komunikasi-komunikasi mengenai negosiasi antara pemerintahan Berlin dan Vienna yang berbicara mengenai intervensi militer di dalam urusan internal Rusia, guna mencegah insureksi. Dan koran-koran tersebut mempublikasikan ini sebagai ancaman. Tidak ada penyangkalan apapun dari pemerintah yang dapat menghapus pengaruh kejutan yang disebabkan oleh komunikasi ini. Jelas terlihat bahwa di istana-istana tiga negeri bertetangga ini sebuah balas dendam kontra-revolusioner sedang dipersiapkan. Mengapa tidak? Mungkinkah monarki-monarki semi-feodalis yang bertetangga berdiam diri secara pasif ketika api revolusi menjilat perbatasan mereka?
Revolusi Rusia, walaupun masih jauh dari kemenangan, telah mempengaruhi Galicia melalui Polandia. Pada konferensi Partai Sosial-Demokrat Polandia di Lvov pada bulan Mei tahun ini, Daszynski[6] mengatakan “Satu tahun yang lalu, siapa yang dapat menyangka apa yang sekarang sedang terjadi di Galicia? Gerakan tani yang luar biasa ini telah menyebarkan kekaguman ke seluruh negara Austria. Kota Zbaraz memilih seorang Sosial-Demokrat sebagai wakil pemimpin dewan regional. Kaum tani menerbitkan koran sosialis-revolusioner untuk kaum tani, yang berjudul Bendera Merah. Pertemuan-pertemuan massa raksasa, dengan 30 ribu orang, dilaksanakan dengan parade bendera-bendera merah dan lagu-lagu revolusioner melalui desa-desa Galicia, yang dulunya sangat tenang dan apati … Apa yang akan terjadi ketika dari Rusia pekik nasionalisasi tanah mencapai kaum tani miskin ini?” Lebih dari dua tahun yang lalu, di dalam argumennya dengan Lusnia, seorang Sosialis Polandia, Kautsky berpendapat bahwa Rusia tidak boleh lagi dilihat sebagai sebuah bola pemberat kaki Polandia, atau Polandia dilihat sebagai pasukan Timur dari Eropa revolusioner yang merangsek ke dalam rumah barbarisme orang Moskow. Bila kemenangan revolusi di Rusia terjadi, maka menurut Kautsky permasalahan Polandia “akan menjadi akut kembali, tetapi bukan seperti yang dipikirkan oleh Lusnia. Bukan melawan Rusia tetapi melawan Austria dan Jerman, dan selama Polandia akan membantu revolusi maka tugasnya adalah bukan melawan Rusia tetapi membawa revolusi ini ke Austria dan Jerman.” Ramalan ini jauh lebih dekat ke realisasi daripada yang Kautsky pikirkan.
Tetapi revolusi di Polandia bukanlah satu-satunya titik tolak untuk revolusi di Eropa. Kita telah menunjukkan di atas bahwa kaum borjuasi secara sistematik telah absen dari penyelesaian banyak permasalahan yang kompleks dan akut yang mempengaruhi politik dalam dan luar negeri. Walaupun telah mempersenjatai banyak tentara, pemerintahan borjuis tidak mampu memotong dengan pedang kekusutan politik internasional. Hanya sebuah pemerintahan yang memiliki dukungan seluruh bangsa yang kepentingan-kepentingan utamanya terpengaruhi, atau sebuah pemerintahan yang telah kehilangan pijakan dan terdorong oleh kenekatan putus-asa, dapat mengirim ratusan dan ribuan manusia ke dalam perang. Di dalam kondisi-kondisi moderen kebudayaan politik, ilmu militer, pemilihan umum universal, dan wajib militer universal, hanya kepercayaan-diri yang dalam atau avonturisme yang gila yang dapat mendorong dua bangsa ke dalam konflik. Di dalam perang Franco-Prussia[7] tahun 1870, di satu sisi adalah Bismarck yang berjuang untuk membawa Jerman ke bawah Prussia, yang berarti persatuan nasional, suatu keperluan utama yang diakui oleh setiap penduduk Jerman, dan di sisi yang lain adalah pemerintahan Napoleon III[8], yang lancang, tak berdaya, dibenci oleh bangsanya sendiri, siap untuk petualangan apapun guna menjamin kelangsungan hidupnya selama 12 bulan lagi. Pembagian peran-peran yang sama dapat dilihat di peperangan Russo-Jepang. Di satu sisi adalah pemerintahan Mikado[9], yang belum ditentang oleh kaum proletar revolusioner, yang berjuang untuk dominasi kapital Jepang di Timur Jauh, dan di sisi yang lain adalah sebuah pemerintahan otokrat yang telah kadaluwarsa dan sedang berusaha keras untuk menebus kekalahan-kekalahan internalnya dengan meraih kemenangan di luar negeri. 
Di negeri-negeri kapitalis tua, tidak ada tuntutan-tuntutan ‘nasional’, dalam kata lain, tuntutan-tuntutan dari kaum borjuasi secara keseluruhan, dimana kaum borjuasi penguasa dapat mengklaim sebagai pejuang utama dari tuntutan-tuntutan tersebut. Pemerintahan Prancis, Inggris, Jerman, dan Austria tidak mampu memimpin peperangan nasional. Kepentingan-kepentingan vital rakyat, kepentingan-kepentingan bangsa-bangsa yang tertindas, atau politik-politik internal yang barbar dari negeri tetangga tidak dapat mendorong satupun pemerintah borjuis ke dalam sebuah perang yang dapat memiliki karakter pembebasan dan maka dari itu karakter nasional. Di pihak lain, kepentingan kapitalis untuk merebut pasar, yang dari waktu ke waktu mendorong pemerintah-pemerintah – hari ini pemerintah yang itu, esok hari pemerintah yang lain – untuk melakukan aksi-aksi provokasi di hadapan dunia, tidak dapat membangkitkan reaksi dari rakyat. Untuk alasan ini, kaum borjuasi tidak dapat atau tidak akan menyerukan atau memimpin peperangan nasional apapun. Akibat dari peperangan anti-nasional yang moderen telah terlihat dari dua pengalaman baru-baru ini – di Afrika Selatan dan di Timur Jauh.
Kekalahan besar kaum imperialis Konservatif di Inggris bukanlah karena pengalaman perang Boer[10]. Sebuah konsekuensi yang lebih penting dan lebih berbahaya dari kebijakan imperialis (berbahaya bagi kaum borjuasi) adalah kebebasan politik kaum proletar Inggris, yang, bila sudah mulai, akan maju dengan langkah yang besar. Mengenai konsekuensi dari perang Russo-Jepang bagi Pemerintah Petrograd, ini sangatlah diketahui dan kita tidak perlu membahasnya. Tetapi bahkan tanpa kedua pengalaman ini, pemerintah-pemerintah Eropa – semenjak kaum proletar mulai berdiri di kakinya sendiri – selalu takut untuk memilih antara perang atau revolusi. Ketakutan terhadap pemberontakan kaum proletar inilah yang mendorong partai-partai borjuasi, bahkan ketika mereka mendukung anggaran militer yang besar, untuk membuat deklarasi-deklarasi yang serius mengenai perdamaian, memimpikan sebuah Sidang Arbitrasi Internasional dan bahkan organisasi Uni Eropa. Deklarasi-deklarasi yang menyedihkan ini tentu saja tidak dapat menghapus antagonisme antar bangsa ataupun konflik-konflik bersenjata.
Perdamaian di Eropa setelah Perang Franco-Prussia adalah berdasarkan perimbangan kekuatan di Eropa yang mensyaratkan bukan hanya keutuhan Turki, partisi Polandia, dan keutuhan Austria, tetapi juga keutuhan despotisme Rusia yang tersenjatai sepenuhnya sebagai polisi reaksioner Eropa. Akan tetapi, perang Russo-Jepang menghantarkan sebuah pukulan yang besar pada sistem artifisial yang dipimpin oleh otokrasi ini. Rusia untuk sementara jatuh dari singgasana negeri-negeri adidaya. Perimbangan kekuatan hancur. Di pihak lain, keberhasilan Jepang membangkitkan insting agresif kaum kapitalis borjuis, terutama bursa-bursa saham yang memainkan peran yang sangat besar di dalam politik kontemporer. Kemungkinan pecahnya perang di Eropa meningkat dengan sangat besar. Konflik-konflik semakin memanas dimana-mana, dan bila sampai sekarang mereka telah terhindari melalui diplomasi, tidak ada jaminan kalau diplomasi ini dapat bertahan lama. Tetapi peperangan di Eropa secara tak terelakkan berarti revolusi di Eropa.
Selama perang Russo-Jepang, Partai Sosialis Prancis menyatakan bahwa bila pemerintah Prancis mengintervensi di sisi otokrasi, ia akan menyerukan kepada kaum proletar untuk mengambil langkah-langkah yang paling tegas, bahkan sampai memberontak bila perlu. Pada Maret 1906, ketika konflik Franco-Jerman mengenai Moroko meruncing, Biro Sosialis Internasional[11] memutuskan, bila bahaya peperangan hadir, untuk “memformulasikan metode-metode aksi yang paling menguntungkan bagi seluruh partai sosialis internasional dan bagi seluruh kelas buruh yang terorganisir guna mencegah perang atau mengakhirinya”. Tentu saja ini hanyalah sebuah resolusi. Dibutuhkan sebuah perang untuk menguji kesungguhan dari resolusi ini[12], tetapi kaum borjuasi ingin menghindari ujian tersebut. Akan tetapi, sayangnya bagi kaum borjuasi, logika relasi-relasi internasional adalah lebih kuat daripada logika diplomasi.
Kebangkrutan Negara Rusia – tidak peduli bila ini adalah akibat dari kelanjutan pemerintahan oleh para birokrat atau ini dideklarasikan oleh sebuah pemerintahan revolusioner yang akan menolak membayar dosa-dosa rejim yang lama – akan memiliki pengaruh yang sangat buruk bagi Prancis. Kaum Radikal Prancis (partai borjuis liberal – Ed.), yang sekarang menggenggam nasib politik Prancis di tangan mereka, dalam mengambil kekuasaan juga telah mengambil semua fungsi melindungi kepentingan kapital. Oleh sebab itu, ada alasan untuk berasumsi bahwa krisis ekonomi yang disebabkan oleh kebangkrutan Rusia akan mengulangi dirinya secara langsung di Prancis dalam bentuk sebuah krisis politik yang akut yang dapat diakhiri hanya dengan pemindahan kekuasaan ke tangan kaum proletar. Bagaimana pun juga, melalui sebuah revolusi di Polandia atau melalui konsekuensi perang di Eropa, atau sebagai akibat dari kebangkrutan Negara Rusia, revolusi akan menyeberang ke wilayah-wilayah kapitalis tua di Eropa.
Tetapi, bahkan tanpa tekanan dari luar seperti perang atau kebangkrutan, revolusi dapat bangkit di masa yang mendatang di salah satu bangsa Eropa sebagai akibat dari menajamnya perjuangan kelas secara ekstrim. Kita tidak akan mencoba membangun asumsi-asumsi mengenai bangsa Eropa mana yang pertama akan mengambil jalan revolusi. Satu hal yang tidak bisa diragukan, yakni bahwa kontradiksi-kontradiksi kelas di semua negeri-negeri Eropa belakangan ini telah mencapai tingkat intensitas yang sangat tinggi.
Pertumbuhan Sosial Demokrasi di Jerman yang luar biasa, di dalam kerangka konstitusi yang semi-absolutisme, akan menyebabkan sebuah konflik terbuka antara kaum proletar dengan monarki feodal-borjuis. Dalam satu tahun belakangan ini, masalah melawan kudeta politik dengan pemogokan umum telah menjadi salah satu pertanyaan utama di dalam kehidupan politik kaum proletar Jerman. Di Prancis, transisi kekuasaan ke tangan kaum Radikal (partai borjuis liberal – Ed.) telah membuka tali pengikat tangan kaum proletar, yang dulunya terikat oleh kerjasamanya dengan partai-partai borjuis dalam perjuangan melawan nasionalisme dan kekuasaan gereja. Partai Sosialis, yang kaya dengan tradisi empat revolusi yang tidak pernah padam, dan kaum borjuasi konservatif, yang bersembunyi di balik topeng Radikalisme, sekarang saling berhadap-hadapan. Di Inggris, dimana selama satu abad, kedua partai borjuis (Partai Konservatif dan Partai Liberal – Ed.) telah bergantian menguasai parlemen, kaum proletar di bawah pengaruh berbagai macam faktor baru saja mengambil jalan perceraian politik. Sedangkan di Jerman proses ini berlangsung selama 4 dekade, kelas buruh Inggris, yang memiliki serikat-serikat buruh yang kuat dan kaya dengan pengalaman perjuangan ekonomi, dengan beberapa loncatan dapat memimpin pasukan sosialisme benua Eropa.
Pengaruh Revolusi Rusia pada kaum proletar Eropa sangatlah besar. Selain menghancurkan absolutisme Rusia, yang merupakan kekuatan reaksioner utama di Eropa, revolusi ini akan menciptakan syarat-syarat yang dibutuhkan untuk revolusi di dalam kesadaran dan karakter kelas buruh Eropa.
Fungsi partai-partai sosialis adalah untuk merevolusionerkan kesadaran kelas buruh, seperti halnya perkembangan kapitalisme merevolusionerkan relasi-relasi sosial. Tetapi kerja agitasi dan pengorganisiran di antara kaum proletar memiliki inersia internal. Partai-partai Sosialis Eropa, terutama yang paling besar yakni Partai Sosial Demokrat Jerman, telah menjadi semakin konservatif seiring dengan semakin eratnya massa merangkul sosialisme dan semakin massa ini terorganisir dan disiplin. Sebagai akibatnya, Sosial Demokrasi sebagai organisasi yang mengejawantahkan pengalaman politik kaum proletar dapat pada satu ketika menjadi rintangan bagi konflik terbuka antara kaum buruh dan borjuasi. Dalam kata lain, konservatisme propagandis-sosialis dari partai-partai proletar dapat pada satu ketika menghalangi perjuangan kaum proletar untuk merebut kekuasaan. Pengaruh Revolusi Rusia yang luar biasa ini mengindikasikan bahwa ia akan menghancurkan rutinitas dan konservatisme partai, dan mendorong ke depan konflik terbuka antara kelas proletar dan kelas borjuasi reaksioner. Perjuangan untuk pemilu universal di Austria, Saxony, dan Prussia telah menjadi akut di bawah pengaruh langsung pemogokan-pemogokan Oktober di Rusia. Revolusi di Timur akan menulari kaum proletar Barat dengan sebuah idealisme revolusioner dan membangkitkan hasrat untuk berbicara kepada musuhnya dengan ‘bahasa Rusia’. Bila kaum proletar Rusia menemui dirinya berada di dalam kekuasaan, bila hanya sebagai akibat dari sebuah kombinasi situasi-situasi yang sementara di dalam revolusi borjuis kita, mereka akan menghadapi serangan terorganisir dari kaum reaksioner sedunia. Di pihak lain, mereka akan menemui kesiapan kaum proletar sedunia untuk memberikannya dukungan yang terorganisir.
Terisolasi dengan sumberdayanya sendiri, kelas buruh Rusia pasti akan diremukkan oleh kontra-revolusi ketika kaum tani meninggalkan mereka. Mereka tidak punya pilihan lain selain menghubungkan nasib kekuasaan politiknya dan nasib seluruh Revolusi Rusia dengan nasib revolusi sosialis di Eropa. Dengan kekuatan politik-negara yang luar biasa, yang diperolehnya karena kombinasi kondisi-kondisi sementara di dalam revolusi borjuis Rusia, ia akan mengubah perimbangan perjuangan kelas di seluruh dunia kapitalis. Dengan kekuasaan negara di tangannya, dengan kekuatan kontra-revolusi di belakangnya dan kekuatan reaksioner Eropa di mukanya, kelas buruh Rusia akan mengirim sebuah pekik perjuangan yang tua kepada kamerad-kameradnya di seluruh dunia, yang sekarang akan menjadi sebuah seruan untuk serangan yang terakhir: Buruh Sedunia, Bersatulah!  

Catatan
[1] Perpetual Motion (gerak-kekal) adalah sebuah konsep utopis dimana sebuah benda dapat bergerak selamanya, dimana konsep ini melanggar hukum konservasi energi.
[2] Baca kata pengantar saya untuk Address To The Jury oleh F. Lassalle, diterbitkan oleh Molot – L.T.
[3] Franz Josef I Karl (1830 – 1916) adalah Kaisar Austria dari keluarga dinasti Habsburg
[4] Kabinet Oktober yang dimaksud disini adalah pemerintahan Tsar Rusia yang melahirkan Manifesto Oktober yang diproklamirkan karena tekanan dari Revolusi 1905. Manifesto Oktober ini diproklamirkan pada 17 Oktober 1905, dan menjamin dan meluaskan kebebasan demokrasi rakyat Rusia.
[5] Duma adalah bahasa Rusia untuk dewan munisipal di bawah pemerintahan Tsar, yang dbentuk pada 1905.
[6] Ignacy Daszynski (1866-1936) adalah seorang politisi Polandia, dan pemimpin dari Partai Sosialis Polandia. Dia adalah seorang anti-Bolshevik.
[7] Perang Franco-Prussia adalah perang yang berlangsung dari 1870 hingga 1871 yang menelan korban sekitar 250 ribu jiwa. Prancis kalah di dalam peperangan ini, dan kemarahan akibat perang ini membuat kaum pekerja Prancis berang, terutama karena merekalah korban dari perang ini dan dipaksa membayar ganti-rugi perang kepada Prussia. Ini memercikkan Revolusi Komune Paris 1871
[8] Napoleon III (1808-1873) atau dikenal juga sebagai Louis Napoleon Bonaparte adalah keponakan dari Napoleon I. Dia adalah presiden dari Republik Kedua Prancis (1848-1852), setelah Revolusi Prancis 1848, lalu Kaisar dari Kerajaan Prancis Kedua (1852-1870) setelah dia meluncurkan kudeta yang menghancurkan Revolusi Prancis 1848. Marx menulis banyak mengenai dia, dalam karyanya Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte mengenai Revolusi Prancis 1848, dan lalu Civil War and France mengenai perang Franco-Prussia dan Komune Paris yang menyusulinya.
[9] Mikado adalah istilah tua untuk Kaisar Jepang.
[10] Perang Boer (1899-1902) adalah perang yang terjadi di Afrika Selatan, antara negeri-negeri di Afrika Selatan (South African Republic dan Orange Free State) dengan negeri imperialis Inggris. Kaum Boer adalah orang-orang keturunan Eropa di Afrika Selatan yang berimigrasi sejak abad ke-17 dan lalu membentuk negeri-negeri yang independen. Mereka berjuang untuk mempertahankan negeri mereka dari Inggris yang ingin menjajah mereka. Kaum Boer kalah dalam peperangan ini, dan lalu negeri-negeri mereka dianeksasi dan disatukan menjadi Union of South Africa pada 1910.
[11] Biro Internasional Sosialis adalah organisasi permanen dari Internasional Kedua. Biro ini dibentuk pada 1900 di kongres Paris. Sebelum Biro ini terbentuk, tidak ada infrastruktur organisasi di dalam Internasional Kedua yang sudah eksis sejak 1889.
[12] Ternyata resolusi ini tidak efektif. Pada 1914, partai-partai sosial demokrasi Internasional Kedua mendukung Perang Dunia Kedua.