Pendahuluan pada edisi
tahun 1919
Karakter Revolusi Rusia
adalah masalah fundamental bagi berbagai tendensi ideologi dan organisasi
politik gerakan revolusioner Rusia. Bahkan di dalam gerakan sosial-demokrat sendiri,
masalah karakter Revolusi Rusia menyebabkan pertentangan yang serius segera
setelah peristiwa-peristiwa memberikannya sebuah karakter praksis. Semenjak
1904, pertentangan ini mengambil dua aliran fundamental: Menshevisme[1] dan Bolshevisme[2]. Dari sudut pandang Menshevisme, revolusi
kita akan mengambil bentuk revolusi borjuis, dalam kata lain, secara alami revolusi ini
merupakan transfer kekuasaan ke tangan kaum borjuasi dan pembangunan
kondisi-kondisi untuk parlemen borjuis. Dari sudut pandang Bolshevisme,
walaupun mengakui karakter borjuis dari revolusi yang akan datang, tugas
revolusi yang mendatang adalah pembentukan sebuah republik yang demokratis
melalui kediktatoran kelas proletar dan tani.
Analisa sosial Menshevik
sangatlah dangkal dan pada intinya mereduksi analogi sejarah secara kasar – ini
adalah metode yang tipikal dari kaum filistin[3] yang “terdidik”.
Kenyataan bahwa perkembangan kapitalisme Rusia telah menciptakan
kontradiksi-kontradiksi yang luar biasa di kedua kutubnya, yang membatasi peran
demokrasi borjuis menjadi tidak signifikan, dan juga pengalaman dari
peristiwa-peristiwa selanjutnya, tidak menghalangi kaum Menshevik dari usahanya
untuk mencari demokrasi yang ‘sejati’, yang ‘asli’ yang akan memimpin ‘bangsa’
dan membentuk parlemen dan kondisi-kondisi demokrasi bagi perkembangan
kapitalis. Di mana-mana kaum Menshevik selalu mencari tanda-tanda perkembangan
demokrasi borjuis, dan ketika mereka tidak mampu menemukannya mereka
menciptakannya. Mereka membesar-besarkan pentingnya setiap deklarasi dan
demonstrasi ‘demokratik’, pada saat yang sama meremehkan kekuatan dan prospek
kelas proletar sebelum berjuang. Saking fanatiknya usaha mereka untuk mencari
kepemimpinan demokrasi borjuis, guna mengamankan karakter borjuis yang ‘sah’
dari Revolusi Rusia yang menurut mereka dibutuhkan oleh hukum sejarah, selama
Revolusi (periode dari Februari 1917 hingga Oktober 1917 – Ed.) ketika tidak
ada kepemimpinan demokrasi borjuis yang bisa ditemui, kaum Menshevik sendiri
yang mengemban tugas-tugas demokrasi borjuis.
Demokrasi borjuis-kecil
tanpa ideologi sosialisme, tanpa persiapan kelas secara Marxis, tentu saja
tidak dapat berbuat apa-apa di bawah kondisi-kondisi Revolusi Rusia, seperti
halnya kaum Menshevik di dalam perannya sebagai partai ‘yang memimpin’ pada
saat Revolusi Februari. Ketidakadaan pondasi sosial yang serius untuk demokrasi
borjuis mempengaruhi kaum Menshevik, karena mereka menjadi kadaluwarsa dengan
cepat, dan pada bulan ke delapan Revolusi (yakni Oktober 1917 – Ed.) mereka
terlempar keluar oleh perjuangan kelas.
Sebaliknya, Bolshevisme
sama sekali tidak memiliki keyakinan pada kekuatan demokrasi borjuis
revolusioner di Rusia. Dari awal, Bolshevisme mengakui pentingnya kelas buruh
di dalam Revolusi yang mendatang. Akan tetapi, kaum Bolshevik awalnya membatasi
program Revolusi untuk kepentingan jutaan kaum tani, yang tanpa mereka Revolusi
tidak akan mampu dilaksanakan. Oleh karena itu, kaum Bolshevik mengakui (untuk
sementara) karakter demokratik-borjuis dari Revolusi ini.
Mengenai estimasi
kekuatan-kekuatan internal di dalam Revolusi dan prospek-prospeknya, pengarang
buku ini, pada saat itu, tidak mengikuti kedua aliran utama di dalam gerakan
buruh Rusia. Gagasan yang dia pegang saat itu dapat dirangkum sebagai berikut:
Revolusi ini, yang dimulai sebagai sebuah revolusi borjuis di dalam tugas-tugas
pertamanya, akan segera mengakibatkan konflik-konflik kelas yang besar dan hanya
akan meraih kemenangan mutlak dengan memindahkan kekuasaan ke satu-satunya
kelas yang mampu memimpin semua rakyat tertindas, kelas ini adalah kelas
proletar. Setelah berkuasa, kaum proletar tidak hanya tidak ingin, tetapi juga
tidak mampu membatasi dirinya di dalam program demokrasi borjuis. Kaum proletar
hanya akan mampu membawa Revolusi ini ke garis akhir bila Revolusi Rusia diubah
menjadi sebuah Revolusi Proletar Se-Eropa. Program demokrasi-borjuis kemudian
akan terlampaui, dan dominasi politik kelas buruh Rusia yang bersifat sementara
akan berkembang menjadi sebuah kediktatoran sosialis yang mampu bertahan lama.
Tetapi, bila tidak ada revolusi di Eropa, kontra-revolusi borjuis tidak akan
mentolerir pemerintahan rakyat pekerja di Rusia dan akan melempar bangsa ini
jauh ke belakang – jauh dari sebuah republik buruh dan tani yang demokratis.
Maka dari itu, setelah meraih kekuasaan, kelar proletar tidak boleh membatasi
dirinya di dalam limit demokrasi borjuis. Ia harus mengadopsi taktik-taktik Revolusi Permanen, yakni ia harus menghancurkan batasan-batasan
antara program minimum dan maksimum Sosial Demokrasi, ia harus mengadopsi
reforma-reforma sosial yang lebih radikal dan mencari dukungan langsung dan
segera dari revolusi di Eropa Barat. Gagasan ini dikembangkan dan didebatkan di
karya yang sekarang diterbitkan ulang, yang ditulis pada 1904-1906.
Dalam mempertahankan
gagasan Revolusi Permanen selama 15 tahun ini, pengarang gagal menaksir
dinamika faksi-faksi yang berseteru di dalam gerakan sosial-demokrasi. Karena
kedua faksi tersebut mulai dari sudut pandang revolusi borjuis, pengarang saat itu berpendapat bahwa
perbedaan-perbedaan di antara mereka tidaklah terlalu tajam untuk membenarkan
perpecahan. Pada saat yang sama, pengarang buku ini berharap bahwa jalannya
peristiwa-peristiwa mendatang akan membuktikan kelemahan demokrasi borjuis
Rusia, dan juga kemustahilan objektif bagi kelas proletar untuk membatasi
dirinya pada program demokrasi. Pengarang saat itu berpikir bahwa ini akan
menyingkirkan perbedaan-perbedaan di antara kedua faksi tersebut.
Berdiri di luar kedua
faksi ketika dalam pengasingan, pengarang tidak memikirkan secara serius bahwa
pada kenyataannya pertentangan antara Bolshevik dan Menshevik telah menarik
kaum revolusioner yang teguh ke satu kubu, dan menarik elemen-elemen yang
menjadi semakin oportunis dan lembek ke kubu yang lain. Ketika Revolusi 1917
terjadi, Partai Bolshevik merupakan sebuah organisasi sentralis yang kuat yang
menyatukan semua elemen-elemen terbaik dari kaum buruh yang maju dan kaum
intelektual yang revolusioner, yang – setelah sejumlah perjuangan internal –
secara terbuka mengadopsi taktik-taktik untuk mencapai kediktatoran sosialis
kelas buruh, sesuai dengan seluruh situasi internasional dan relasi-relasi
kelas di Rusia. Di pihak yang lain, faksi Menshevik, pada periode Revolusi
1917, telah menjadi cukup matang untuk melaksanakan tugas-tugas demokrasi
borjuis, seperti yang telah saya jelaskan di atas.
Dalam menawarkan ke
publik pencetakan ulang buku ini, sang pengarang tidak hanya bermaksud
menjelaskan prinsip-prinsip teori yang memungkinkan ia dan kamerad-kamerad
lainnya, yang selama bertahun-tahun berdiri di luar Partai Bolshevik, untuk
bergabung dengan Bolshevik pada permulaan 1917 (penjelasan pribadi seperti itu
bukanlah sebuah alasan yang cukup kuat untuk mencetak ulang buku ini), tetapi
juga untuk mengulas ulang analisa sosial-historis dari kekuatan-kekuatan
penggerak Revolusi Rusia, yang mana sebuah kesimpulan ditarik bahwa
pengambilalihan kekuasaan oleh kelas buruh harus menjadi tugas dari Revolusi
Rusia, dan kesimpulan ini ditarik jauh sebelum kediktatoran proletar telah
menjadi sebuah fakta yang sudah terjadi. Bahwa kita bisa mempublikasikan buku
ini yang ditulis pada 1906 tanpa perubahan sama sekali adalah sebuah bukti yang
memadai bahwa teori Marxisme ada di pihak partai yang benar-benar membawa
kediktatoran kelas buruh, dan bukan di pihak Menshevik yang menggantikan
demokrasi borjuis.
Ujian akhir dari sebuah
teori adalah praktek. Bukti yang tidak dapat dibantah bahwa kami telah
menggunakan teori Marxis secara tepat adalah kenyataan bahwa kami sedang
berpartisipasi di dalam peristiwa-peristiwa yang sudah kami ramalkan akan
terjadi 15 tahun yang lalu, dan bahkan metode-metode partisipasi kami juga
terbukti.
Sebagai sebuah tambahan,
kami juga mencetak ulang sebuah artikel yang diterbitkan di Paris di koran
Nashe Slovo[4] pada 17 Oktober 1915,
yang berjudul “Perjuangan Merebut Kekuasaan” (lihat Bab 10 dari karya ini –
Ed.). Artikel ini adalah artikel polemik dan mengkritisi “Surat” programatik
yang ditujukan kepada “Kamerad-Kamerad di Rusia” oleh pemimpin-pemimpin
Menshevik. Di dalam artikel ini, kita menyimpulkan bahwa perkembangan
relasi-relasi kelas selama 10 tahun setelah Revolusi 1905 telah membuat harapan
kaum Menshevik terhadap demokrasi borjuis semakin seperti ilusi, dan oleh
karenanya, nasib Revolusi Rusia semakin terikat dengan kediktatoran proletar …
Dengan perdebatan ide-ide yang terjadi selama bertahun-tahun, hanya orang bodoh
saja yang berpendapat bahwa Revolusi Oktober adalah sebuah ‘avonturisme’.
Berbicara mengenai sikap
kaum Menshevik terhadap Revolusi Rusia, kita tidak bisa tidak berbicara
mengenai degenerasi Kautsky[5], yang menemukan ekspresi kebangkrutan
teori dan politiknya dari ‘teori-teorinya’ Martov[6], Dan[7], dan Tsereteli[8]. Setelah Revolusi Oktober 1917, kita
mendengar dari Kautsky bahwa: walaupun perebutan kekuasaan oleh kelas buruh
harus dianggap sebagai tugas historis dari Partai Sosial-Demokrasi, Partai
Komunis Rusia telah gagal merebut kekuasaan melalui pintu tertentu dan menurut
agenda tertentu yang diterapkan oleh Kautsky, dan oleh karena itu Republik
Soviet[9] harus diserahkan kepada
Kerensky[10], Tsereteli, dan Chernov[11] untuk diperbaiki. Kritik
Kautsky yang reaksioner-pedantik ini adalah lebih mengejutkan bagi
kamerad-kamerad yang telah mengalami periode Revolusi Rusia yang pertama
(Revolusi 1905 – Ed.) dengan mata terbuka dan telah membaca karya-karya Kautsky
tahun 1905-1906. Pada saat itu, Kautsky (ya benar, bukan tanpa pengaruh dari
Rosa Luxemburg[12]) sepenuhnya memahami dan mengerti bahwa Revolusi
Rusia tidak bisa berhenti di tahapan republik demokrasi-borjuis, tetapi harus
secara tak-terelakkan menuju ke kediktatoran proletar, ini dikarenakan level
perjuangan kelas di Rusia sendiri dan karena situasi kapitalisme secara
internasional. Saat itu, Kautsky secara terbuka menulis mengenai pemerintahan
buruh dengan mayoritas sosial-demokrasi (baca Partai Buruh Sosial Demokrasi
Rusia – Ed.). Dia bahkan tidak berpikir untuk membuat perjuangan kelas
tergantung pada kombinasi-kombinasi politik demokrasi yang berubah-ubah dan
dangkal.
Pada saat itu, Kautsky
mengerti bahwa Revolusi ini akan mulai, untuk pertama kalinya, membangkitkan
jutaan kaum tani dan kaum borjuasi-kecil kota, dan bukan secara sekaligus
tetapi secara perlahan-lahan, selapis-selapis. Sedemikian rupa sehingga ketika
perjuangan antara kaum proletar dan kaum borjuasi mencapai klimaksnya, massa
tani yang luas masih berada pada level politik yang sangat primitif dan akan
memberikan suara pilihan mereka kepada partai-partai politik perantara, yang
merefleksikan keterbelakangan dan prasangka-prasangka kelas tani. Saat itu,
Kautsky paham bahwa kelas proletar, yang dituntun oleh logika revolusi menuju
perebutan kekuasaan, tidak dapat dengan sekehendak-hatinya menunda perebutan
kekuasaan, karena dengan menundanya ia akan membuka jalan untuk
kontra-revolusi. Saat itu Kautsky mengerti bahwa, setelah merebut kekuasaan
revolusioner, kelas proletar tidak akan membiarkan nasib revolusi ditentukan
oleh kesadaran lapisan-lapisan massa rakyat yang paling terbelakang, yakni
massa yang belum terbangunkan. Sebaliknya, kaum proletar akan mengubah kekuasaan
politik yang terkonsentrasikan di tangannya menjadi sebuah aparatus kuat guna
membangunkan dan mengorganisir massa tani yang terbelakang dan bodoh. Kautsky
mengerti bahwa untuk memanggil Revolusi Rusia sebagai sebuah revolusi borjuis
dan membatasi tugas-tugasnya berarti tidak memahami apa yang sedang terjadi di
dunia. Bersama-sama dengan kaum Marxis revolusioner Rusia dan Polandia, dia
mengakui secara benar bahwa, bila kaum proletar Rusia merebut kekuasaan sebelum
kaum proletar Eropa, ia harus menggunakan posisinya sebagai kelas penguasa
bukan untuk menyerah kepada kaum borjuasi tetapi untuk memberikan bantuan
kepada revolusi proletar di Eropa dan seluruh dunia. Semua prospek-prospek
dunia ini, yang dipenuhi dengan semangat ide Marxisme, tidaklah tergantung pada
Kautsky atau kita, tidak tergantung pada bagaimana dan kepada siapa para petani
akan memilih di dalam pemilu Majelis Konstituante pada November dan Desember
1917.
Sekarang, ketika
prospek-prospek yang sudah digarisbawahi 15 tahun yang lalu telah menjadi
sebuah realitas, Kautsky menolak untuk memberi akte lahir pada Revolusi Rusia
karena kelahirannya belum didaftarkan secara sepatutnya di kantor politik
demokrasi borjuis. Sungguh sebuah fakta yang menakjubkan! Sebuah kebangkrutan
Marxisme yang luar biasa! Kita dapat mengatakan bahwa kebangkrutan
Internasional Kedua[13] telah menemukan
ekspresinya yang bahkan lebih buruk daripada penyokongan Kredit Perang[14] pada 4 Agustus, 1914 di
dalam penghakiman filistin terhadap Revolusi Rusia, yang dilakukan oleh salah
satu teoritisi terhebatnya.
Selama puluhan tahun
Kautsky mengembangkan dan membela gagasan-gagasan revolusi sosial. Sekarang
ketika revolusi sosial tersebut menjadi realitas, Kautsky mundur ketakutan. Dia
takut akan kekuasaan Soviet Rusia dan mengambil sikap memusuhi gerakan kaum
proletar Komunis Jerman yang dahsyat. Kautsky adalah seperti seorang guru yang
menyedihkan hidupnya, yang selama bertahun-tahun mengulang-ulang penjelasan
mengenai musim semi kepada murid-muridnya di dalam kungkungan empat tembok
kelasnya yang sesak. Ketika di akhir karirnya sebagai seorang guru dia
memutuskan untuk keluar menghirup udara segar, dia tidak mengenali musim semi,
dan menjadi marah dan mencoba untuk membuktikan bahwa musim semi bukanlah musim
semi, tetapi hanyalah sebuah kekacauan alam yang besar yang tidak sesuai dengan
hukum-hukum alam. Sungguh suatu hal yang beruntung karena para buruh tidak
mempercayai bahkan sang guru yang paling berotoritas, tetapi mempercayai suara
musim semi!
Kami, murid-murid Marx,
bersama-sama dengan kaum buruh Jerman, teguh dengan keyakinan kami bahwa musim
semi revolusi telah tiba sesuai dengan hukum-hukum sosial, dan pada saat yang
sama sesuai dengan hukum-hukum teori Marxisme, karena Marxisme bukanlah seorang
guru yang mengawang-awang di atas sejarah, tetapi sebuah analisa sosial
cara-cara dan metode-metode proses sejarah yang benar-benar terjadi.
Saya telah menerbitkan
kedua karya ini – yakni karya yang ditulis pada 1906 dan 1915 – tanpa perubahan
sama sekali. Awalnya saya bermaksud menambahkan catatan-catatan pada kedua
karya tersebut supaya mereka sesuai dengan masa sekarang. Tetapi setelah
membaca kedua karya tersebut, saya membatalkan maksud tersebut. Bila saya ingin
lebih detil, saya harus menulis buku yang dua kali tebalnya, dan saat ini saya
tidak punya waktu – dan juga buku tebal seperti itu akan merepotkan pembaca.
Dan, yang lebih penting, saya menganggap bahwa gagasan-gagasan utama di dalam
karya tersebut sangatlah dekat dengan kondisi-kondisi hari ini, dan para
pembaca yang ingin lebih memahami buku ini secara seksama bisa dengan mudah
menambahkan data-data yang diambil dari pengalaman Revolusi sekarang ini.
L. TROTSKY
12 Maret, 1919
Kremlin
Catatan
[1] Menshevik,
dari bahasa Rusia, artinya minoritas, adalah sayap reformis dari Partai Buruh
Sosial Demokrat Rusia yang memperoleh namanya dari perpecahan faksi dengan kaum
Bolshevik (yang berarti mayoritas) di kongres tahun 1903. Perbedaan politik
yang fundamental antara kaum Menshevik dan kaum Bolshevik menjadi jelas pada
1904 dan terbukti di dalam Revolusi 1905. Kaum Menshevik menganut teori 'dua
tahap', mengajukan argumen bahwa kaum proletar harus beraliansi dengan kaum
borjuasi dan membatasi diri dengan mendirikan republik borjuis dan menunda
sosialisme. Pada 1917, menteri-menteri Menshevik menyokong Pemerintah
Sementara, mendukung kebijakan imperialisnya, dan memerangi revolusi proletar.
Setelah Revolusi Oktober, kaum Menshevik terang-terangan menjadi
kontra-revolusioner.
[2] Bolshevik,
yang dalam bahasa Rusia artinya mayoritas, adalah sebuah faksi di dalam Partai
Buruh Sosial Demokrat Rusia yang dibentuk pada 1903 oleh Lenin untuk melawan
Menshevik saat itu. Perbedaan antara mereka pada saat itu hanyalah bersifat
organisasional, dimana Bolshevik menginginkan partai dengan kader-kader yang
profesional dan disiplin, sedangkan Menshevik menginginkan partai yang luas dan
terbuka dengan jumlah anggota sebesar-besarnya. Perbedaan awal ini ternyata
hanyalah pembukaan untuk perbedaan yang lebih fundamental, yakni antara
Marxisme (Bolshevisme) dan reformisme (Menshevisme). Pada 1912, faksi Bolshevik
pecah dari Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia dan membentuk Partai Bolshevik.
[4] Nashe
Slovo (artinya Suara Kami) adalah koran kaum Menshevik Internasionalis (yakni
kaum Menshevik yang menentang Perang Dunia Pertama) yang dipublikasikan di
Paris dari Januari 1915 hingga September 1916.
[5] Karl
Kautsky (1854-1938) adalah teoritisi Marxis terkemuka dari Jerman. Dia adalah
salah satu pendiri Internasional Kedua dan teoritisi organisasi tersebut.
Awalnya Kautsky dianggap sebagai guru Marxis oleh kaum Bolshevik, termasuk
Lenin. Tetapi dengan semakin dekatnya revolusi, Kautsky menjadi semakin
reformis. Saat Perang Dunia I meledak, dia mengambil posisi yang ambigu. Ketika
Revolusi Oktober meledak, dia mengambil posisi menentangnya dan berdiri di
pihak kontra-revolusi. Lenin dan Trotsky lalu mencapnya sebagai pengkhianat.
[6] Yuli
Martov (1873-1923) adalah pemimpin Menshevik. Awalnya dia bekerja sama dengan
Lenin dalam menerbitkan koran Iskra. Ia akhirnya pecah dengan Lenin pada 1903,
dimana dia berdiri di sisi Menshevik dan Lenin di sisi Bolshevik. Perpecahan
ini awalnya hanya bersifat organisasional, yakni Martov ingin Partai Buruh
Sosial Demokrasi Rusia bersifat luas dan tidak ketat keanggotaannya. Sementara
Lenin ingin agar Partai keanggotaannya ketat dan selektif. Perlahan-lahan
perbedaan politik juga mencuat, dimana Menshevik percaya dengan teori
dua-tahap, yakni Rusia harus terlebih dahulu menjadi negara kapitalis baru bisa
menuju sosialisme.
[7] Fedor
Dan (1871-1947) adalah salah seorang pemimpin Menshevik. Setelah Revolusi
Februari 1917, dia menjadi anggota Komite Eksekutif Soviet Petrograd dan
mendukung Pemerintahan Sementara. Dia menentang Revolusi Oktober.
[8] Irakli
Tsereteli (1882-1959) adalah pemimpin Menshevik. Ia adalah anggota Komite
Eksekutif Soviet Petrograd setelah Revolusi Februari 1917. Ia menjabat sebagai
Menteri Pos dan Telegraf dalam Pemerintahan Sementara. Lalu pada bulan Juli,
dia menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri. Setelah Revolusi Oktober, Tsereteli
memimpin blok anti Soviet yang menolak mengakui Pemerintahan Soviet.
[9] Soviet
berarti “dewan” dalam bahasa Rusia. Dewan ini terbentuk pada masa revolusi
sebagai organ perlawanan dan kekuasaan kaum buruh, tani, dan tentara. Soviet
adalah organ demokrasi paling luas dari rakyat tertindas, dengan demokrasi
langsung yang partisipatoris. Terbentuk pertama kalinya pada Revolusi 1905,
soviet lalu muncul kembali pada Revolusi Februari 1917, dan akhirnya di bawah kepemimpinan
Bolshevik berhasil merebut kekuasaan pada Revolusi Oktober.
[10] Alexander
Kerensky (1882-1970) adalah pemimpin sayap kanan partai Sosialis Revolusioner.
Saat Revolusi Februari pecah, Kerensky dipilih menjadi wakil ketua Soviet
Petrograd. Dia lalu menjabat sebagai Menteri Keadilan dalam Pemerintahan
Provisional yang baru dibentuk. Pada Mei 1917, dia menjabat sebagai Menteri
Peperangan. Setelah kabinet koalisi pertama runtuh pada Juli 1917, dia naik
menjadi Perdana Menteri Pemerintahan Sementara sampai ia digulingkan oleh
Revolusi Oktober. Setelah digulingkan, dia mengasingkan diri ke Prancis.
[11] Victor
Chernov (1876-1952) adalah salah seorang pemimpin dan teoritikus
Sosialis-Revolusioner. Dia adalah Menteri Pertanian di Pemerintahan Provisional
dari Mei-September 1917, dimana dia memerintahkan represi terhadap para petani
yang menyita tanah para tuan tanah.
[12] Rosa
Luxemburg (1871-1919) adalah ahli teori Marxis paling terkemuka Jerman dan
pendiri Partai Komunis Jerman. Bersama-sama dengan Karl Liebknecht, dia dibunuh
oleh pasukan para-militer atas perintah pemimpin Sosial Demokrat.
[13] Internasional
Kedua dibentuk pada 1881 oleh partai-partai buruh massa Eropa. Organisasi
internasional ini mendasarkan dirinya pada gagasan Marxisme. Akan tetapi dalam
perjalanannya, banyak para pemimpin Internasional Kedua mulai mengadopsi
gagasan reformisme. Pada 1914, mayoritas seksi Internasional Kedua mendukung
Perang Dunia Pertama, dan ini menandai kehancuran organisasi tersebut.
[14] Kredit
Perang adalah anggaran perang untuk Perang Dunia Pertama, yang didukung oleh
partai-partai sosial demokratik dari Internasional Kedua pada 1914.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar