IX. Eropa dan Revolusi
Pada Juni 1905, kita
menulis:
“Lebih dari setengah
abad telah berlalu semenjak 1848, setengah abad dimana kapitalisme dengan tak
henti-hentinya menaklukkan seluruh dunia; setengah abad adaptasi mutual antara
kekuatan reaksi borjuis dan kekuatan reaksi feodalisme; setengah abad dimana
kaum borjuasi telah menampakkan nafsu gilanya untuk mendominasi dan kesiapannya
untuk berjuang secara kejam untuk dominasi ini.”
“Seperti halnya seorang
pencari gerak-kekal (perpetual motion)[1] yang
selalu menemui halangan-halangan yang baru dan menumpuk mesin-mesin untuk
mengatasi halangan-halangan ini, kaum borjuasi juga telah mengubah dan
merekonstruksi aparatus negaranya sembari menghindari konflik ‘ekstra-legal’
dengan kekuatan-kekuatan yang melawannya. Tetapi seperti halnya pencari
gerak-kekal yang akhirnya menghadapi sebuah halangan yang tak bisa dia atasi
(hukum konservasi energi), kaum borjuasi juga menghadapi sebuah halangan yang
tidak dapat dia atasi: antagonisme kelas, yang harus diselesaikan dengan
konflik.”
“Dengan mengikat semua
bangsa-bangsa dengan sistem produksinya dan sistem perdagangannya, kapitalisme
telah mengubah seluruh dunia menjadi sebuah organisme ekonomi dan politik yang
tunggal. Seperti halnya sistem kredit moderen mengikat ribuan perusahaan dengan
ikatan-ikatan yang tak-terlihat dan memberi kapital sebuah mobilitas yang luar
biasa yang mencegah banyak kebangkrutan kecil tetapi pada saat yang sama
menyebabkan sapuan krisis ekonomi yang menyeluruh, maka seluruh usaha ekonomi
dan politik kapitalisme, perdagangan dunianya, sistem hutang negaranya yang
luar biasa besar, dan kelompok-kelompok politik yang menyatukan semua kekuatan
reaksi ke dalam sebuah perusahaan saham-gabungan global, bukan hanya telah
mencegah krisis-krisis politik individual, tetapi juga telah mempersiapkan
basis untuk sebuah krisis sosial yang besarnya sama sekali belum pernah
terdengar. Mendorong semua penyakit ke bawah karpet, menghindari semua
kesulitan, menunda semua permasalahan politik internal dan internasional yang
penting, dan tidak mengindahkan semua kontradiksi, kaum borjuasi telah berhasil
menunda hari-akhirnya, dan maka dari itu telah mempersiapkan sebuah likuidasi
radikal dan global terhadap kekuasaannya. Kaum borjuasi telah dengan serakah
merangkul setiap kekuatan reaksioner tanpa mempertanyakan asal-usulnya. Paus
Katolik dan Sultan adalah sahabatnya. Satu-satunya alasan mengapa kaum borjuasi
tidak membentuk hubungan ‘persahabatan’ dengan Kaisar Cina adalah karena dia
tidak mewakili kekuatan apapun. Lebih menguntungkan bagi kaum borjuasi untuk
menjarah daerah-daerahnya Kaisar Cina daripada mempertahankannya sebagai
pelayan mereka dan membayarnya dengan hartanya sendiri. Maka dari itu, kita
telah saksikan bagaimana kaum borjuasi dunia sangat mengandalkan
kelompok-kelompok pra-borjuis reaksioner yang tidak stabil untuk menjaga
kestabilan sistem Negara mereka sendiri.”
“Ini segera memberikan
peristiwa-peristiwa yang sekarang sedang bergulir sebuah karakter
internasional, dan membuka sebuah prospek yang luas. Emansipasi politik Rusia
yang dipimpin oleh kelas buruh akan mengangkat kelas ini ke ketinggian yang tak
pernah terdengar di dalam sejarah, akan memberinya kekuatan dan
sumberdaya-sumberdaya yang luar biasa besar, dan akan membuatnya menjadi
inisiator likuidasi kapitalisme dunia, dimana sejarah telah menciptakan semua
kondisi objektif untuk ini.”[2]
Bila kaum proletar
Rusia, setelah meraih kekuasaan secara sementara, tidak membawa revolusi ini ke
tanah Eropa dengan inisiatifnya sendiri, maka ia akan dipaksauntuk melakukan hal ini oleh kekuatan reaksi
feodal-borjuis Eropa. Tentu saja akan sia-sia bila kita sekarang mencoba
menentukan metode-metode bagaimana Revolusi Rusia akan menyerang kelas
kapitalis Eropa. Metode-metode ini mungkin akan menampakkan diri mereka dengan
tidak disangka-sangka. Mari kita ambil contoh negeri Polandia sebagai jembatan
penghubung antara revolusi di Timur dan revolusi di Barat, walaupun kita
mengambil contoh ini hanya sebagai ilustrasi gagasan kita dan bukan sebagai
prediksi yang sesungguhnya.
Kemenangan revolusi di
Rusia akan berarti kemenangan tak-terelakkan dari revolusi di Polandia.
Tidaklah sulit untuk membayangkan bagaimana keberadaan sebuah pemerintahan
revolusioner di sepuluh provinsi Polandia Rusia akan menyebabkan pemberontakan
di Galicia (Eropa Tengah – Ed.) dan Poznan. Pemerintahan Hohenzollern dan
Habsburg akan merespon ini dengan mengirim pasukan militer ke perbatasan
Polandia, supaya kemudian bisa menyeberangi perbatasan ini untuk menghancurkan
musuhnya di pusatnya – yakni kota Warsaw. Cukup jelas kalau revolusi Rusia
tidak dapat membiarkan garda-depan Baratnya jatuh ke tangan tentara
Prusso-Austria. Perang melawan pemerintahan Wilhem II dan Franz Josef[3] di bawah situasi seperti
ini akan menjadi sebuah aksi bela-diri pemerintahan revolusioner Rusia. Apa
yang akan menjadi sikap kaum proletar Austria dan Jerman? Jelas bahwa mereka
tidak akan tetap tenang di saat tentara-tentara negeri mereka melakukan
peperangan kontra-revolusioner. Sebuah perang antara Jerman yang feodal-borjuis
dan Rusia yang revolusioner secara tak-terelakkan akan menyebabkan sebuah
revolusi proletar di Jerman. Kita akan katakan kepada mereka-mereka yang merasa
bahwa pernyataan ini terlalu kategorikal (pasti) untuk mencoba membayangkan
peristiwa sejarah lain yang akan lebih mungkin mendorong kaum buruh Jerman dan
kaum reaksioner Jerman untuk mengadu kekuatan secara terbuka.
Ketika kabinet Oktober[4] kita tiba-tiba
menetapkan hukum darurat militer di Polandia, sebuah rumor beredar bahwa ini
dilakukan di bawah instruksi langsung dari Berlin. Sebelum pembubaran Duma[5], koran-koran pemerintah mempublikasikan
komunikasi-komunikasi mengenai negosiasi antara pemerintahan Berlin dan Vienna
yang berbicara mengenai intervensi militer di dalam urusan internal Rusia, guna
mencegah insureksi. Dan koran-koran tersebut mempublikasikan ini sebagai
ancaman. Tidak ada penyangkalan apapun dari pemerintah yang dapat menghapus
pengaruh kejutan yang disebabkan oleh komunikasi ini. Jelas terlihat bahwa di
istana-istana tiga negeri bertetangga ini sebuah balas dendam
kontra-revolusioner sedang dipersiapkan. Mengapa tidak? Mungkinkah
monarki-monarki semi-feodalis yang bertetangga berdiam diri secara pasif ketika
api revolusi menjilat perbatasan mereka?
Revolusi Rusia, walaupun
masih jauh dari kemenangan, telah mempengaruhi Galicia melalui Polandia. Pada
konferensi Partai Sosial-Demokrat Polandia di Lvov pada bulan Mei tahun ini,
Daszynski[6] mengatakan “Satu tahun
yang lalu, siapa yang dapat menyangka apa yang sekarang sedang terjadi di
Galicia? Gerakan tani yang luar biasa ini telah menyebarkan kekaguman ke
seluruh negara Austria. Kota Zbaraz memilih seorang Sosial-Demokrat sebagai
wakil pemimpin dewan regional. Kaum tani menerbitkan koran sosialis-revolusioner
untuk kaum tani, yang berjudul Bendera Merah. Pertemuan-pertemuan massa raksasa, dengan 30 ribu orang,
dilaksanakan dengan parade bendera-bendera merah dan lagu-lagu revolusioner
melalui desa-desa Galicia, yang dulunya sangat tenang dan apati … Apa yang akan
terjadi ketika dari Rusia pekik nasionalisasi tanah mencapai kaum tani miskin
ini?” Lebih dari dua tahun yang lalu, di dalam argumennya dengan Lusnia,
seorang Sosialis Polandia, Kautsky berpendapat bahwa Rusia tidak boleh lagi
dilihat sebagai sebuah bola pemberat kaki Polandia, atau Polandia dilihat
sebagai pasukan Timur dari Eropa revolusioner yang merangsek ke dalam rumah
barbarisme orang Moskow. Bila kemenangan revolusi di Rusia terjadi, maka
menurut Kautsky permasalahan Polandia “akan menjadi akut kembali, tetapi bukan
seperti yang dipikirkan oleh Lusnia. Bukan melawan Rusia tetapi melawan Austria
dan Jerman, dan selama Polandia akan membantu revolusi maka tugasnya adalah
bukan melawan Rusia tetapi membawa revolusi ini ke Austria dan Jerman.” Ramalan
ini jauh lebih dekat ke realisasi daripada yang Kautsky pikirkan.
Tetapi revolusi di
Polandia bukanlah satu-satunya titik tolak untuk revolusi di Eropa. Kita telah
menunjukkan di atas bahwa kaum borjuasi secara sistematik telah absen dari
penyelesaian banyak permasalahan yang kompleks dan akut yang mempengaruhi
politik dalam dan luar negeri. Walaupun telah mempersenjatai banyak tentara,
pemerintahan borjuis tidak mampu memotong dengan pedang kekusutan politik
internasional. Hanya sebuah pemerintahan yang memiliki dukungan seluruh bangsa
yang kepentingan-kepentingan utamanya terpengaruhi, atau sebuah pemerintahan
yang telah kehilangan pijakan dan terdorong oleh kenekatan putus-asa, dapat
mengirim ratusan dan ribuan manusia ke dalam perang. Di dalam kondisi-kondisi
moderen kebudayaan politik, ilmu militer, pemilihan umum universal, dan wajib
militer universal, hanya kepercayaan-diri yang dalam atau avonturisme yang gila
yang dapat mendorong dua bangsa ke dalam konflik. Di dalam perang Franco-Prussia[7] tahun 1870, di satu sisi
adalah Bismarck yang berjuang untuk membawa Jerman ke bawah Prussia, yang
berarti persatuan nasional, suatu keperluan utama yang diakui oleh setiap
penduduk Jerman, dan di sisi yang lain adalah pemerintahan Napoleon III[8], yang lancang, tak berdaya, dibenci oleh
bangsanya sendiri, siap untuk petualangan apapun guna menjamin kelangsungan
hidupnya selama 12 bulan lagi. Pembagian peran-peran yang sama dapat dilihat di
peperangan Russo-Jepang. Di satu sisi adalah pemerintahan Mikado[9], yang belum ditentang oleh kaum proletar
revolusioner, yang berjuang untuk dominasi kapital Jepang di Timur Jauh, dan di
sisi yang lain adalah sebuah pemerintahan otokrat yang telah kadaluwarsa dan sedang
berusaha keras untuk menebus kekalahan-kekalahan internalnya dengan meraih
kemenangan di luar negeri.
Di negeri-negeri
kapitalis tua, tidak ada tuntutan-tuntutan ‘nasional’, dalam kata lain,
tuntutan-tuntutan dari kaum borjuasi secara keseluruhan, dimana kaum borjuasi penguasa dapat mengklaim
sebagai pejuang utama dari tuntutan-tuntutan tersebut. Pemerintahan Prancis,
Inggris, Jerman, dan Austria tidak mampu memimpin peperangan nasional.
Kepentingan-kepentingan vital rakyat, kepentingan-kepentingan bangsa-bangsa
yang tertindas, atau politik-politik internal yang barbar dari negeri tetangga
tidak dapat mendorong satupun pemerintah borjuis ke dalam sebuah perang yang
dapat memiliki karakter pembebasan dan maka dari itu karakter nasional. Di
pihak lain, kepentingan kapitalis untuk merebut pasar, yang dari waktu ke waktu
mendorong pemerintah-pemerintah – hari ini pemerintah yang itu, esok hari
pemerintah yang lain – untuk melakukan aksi-aksi provokasi di hadapan dunia,
tidak dapat membangkitkan reaksi dari rakyat. Untuk alasan ini, kaum borjuasi
tidak dapat atau tidak akan menyerukan atau memimpin peperangan nasional
apapun. Akibat dari peperangan anti-nasional yang moderen telah terlihat dari
dua pengalaman baru-baru ini – di Afrika Selatan dan di Timur Jauh.
Kekalahan besar kaum
imperialis Konservatif di Inggris bukanlah karena pengalaman perang Boer[10]. Sebuah konsekuensi yang lebih penting
dan lebih berbahaya dari kebijakan imperialis (berbahaya bagi kaum borjuasi)
adalah kebebasan politik kaum proletar Inggris, yang, bila sudah mulai, akan
maju dengan langkah yang besar. Mengenai konsekuensi dari perang Russo-Jepang
bagi Pemerintah Petrograd, ini sangatlah diketahui dan kita tidak perlu
membahasnya. Tetapi bahkan tanpa kedua pengalaman ini, pemerintah-pemerintah
Eropa – semenjak kaum proletar mulai berdiri di kakinya sendiri – selalu takut
untuk memilih antara perang atau revolusi. Ketakutan terhadap pemberontakan
kaum proletar inilah yang mendorong partai-partai borjuasi, bahkan ketika
mereka mendukung anggaran militer yang besar, untuk membuat deklarasi-deklarasi
yang serius mengenai perdamaian, memimpikan sebuah Sidang Arbitrasi
Internasional dan bahkan organisasi Uni Eropa. Deklarasi-deklarasi yang
menyedihkan ini tentu saja tidak dapat menghapus antagonisme antar bangsa
ataupun konflik-konflik bersenjata.
Perdamaian di Eropa
setelah Perang Franco-Prussia adalah berdasarkan perimbangan kekuatan di Eropa
yang mensyaratkan bukan hanya keutuhan Turki, partisi Polandia, dan keutuhan
Austria, tetapi juga keutuhan despotisme Rusia yang tersenjatai sepenuhnya
sebagai polisi reaksioner Eropa. Akan tetapi, perang Russo-Jepang menghantarkan
sebuah pukulan yang besar pada sistem artifisial yang dipimpin oleh otokrasi
ini. Rusia untuk sementara jatuh dari singgasana negeri-negeri adidaya.
Perimbangan kekuatan hancur. Di pihak lain, keberhasilan Jepang membangkitkan
insting agresif kaum kapitalis borjuis, terutama bursa-bursa saham yang
memainkan peran yang sangat besar di dalam politik kontemporer. Kemungkinan
pecahnya perang di Eropa meningkat dengan sangat besar. Konflik-konflik semakin
memanas dimana-mana, dan bila sampai sekarang mereka telah terhindari melalui diplomasi,
tidak ada jaminan kalau diplomasi ini dapat bertahan lama. Tetapi peperangan di
Eropa secara tak terelakkan berarti revolusi di Eropa.
Selama perang
Russo-Jepang, Partai Sosialis Prancis menyatakan bahwa bila pemerintah Prancis
mengintervensi di sisi otokrasi, ia akan menyerukan kepada kaum proletar untuk
mengambil langkah-langkah yang paling tegas, bahkan sampai memberontak bila
perlu. Pada Maret 1906, ketika konflik Franco-Jerman mengenai Moroko meruncing,
Biro Sosialis Internasional[11] memutuskan, bila bahaya
peperangan hadir, untuk “memformulasikan metode-metode aksi yang paling
menguntungkan bagi seluruh partai sosialis internasional dan bagi seluruh kelas
buruh yang terorganisir guna mencegah perang atau mengakhirinya”. Tentu saja
ini hanyalah sebuah resolusi. Dibutuhkan sebuah perang untuk menguji
kesungguhan dari resolusi ini[12], tetapi kaum borjuasi ingin menghindari
ujian tersebut. Akan tetapi, sayangnya bagi kaum borjuasi, logika relasi-relasi
internasional adalah lebih kuat daripada logika diplomasi.
Kebangkrutan Negara
Rusia – tidak peduli bila ini adalah akibat dari kelanjutan pemerintahan oleh
para birokrat atau ini dideklarasikan oleh sebuah pemerintahan revolusioner
yang akan menolak membayar dosa-dosa rejim yang lama – akan memiliki pengaruh
yang sangat buruk bagi Prancis. Kaum Radikal Prancis (partai borjuis liberal –
Ed.), yang sekarang menggenggam nasib politik Prancis di tangan mereka, dalam
mengambil kekuasaan juga telah mengambil semua fungsi melindungi kepentingan
kapital. Oleh sebab itu, ada alasan untuk berasumsi bahwa krisis ekonomi yang
disebabkan oleh kebangkrutan Rusia akan mengulangi dirinya secara langsung di
Prancis dalam bentuk sebuah krisis politik yang akut yang dapat diakhiri hanya
dengan pemindahan kekuasaan ke tangan kaum proletar. Bagaimana pun juga,
melalui sebuah revolusi di Polandia atau melalui konsekuensi perang di Eropa,
atau sebagai akibat dari kebangkrutan Negara Rusia, revolusi akan menyeberang
ke wilayah-wilayah kapitalis tua di Eropa.
Tetapi, bahkan tanpa
tekanan dari luar seperti perang atau kebangkrutan, revolusi dapat bangkit di
masa yang mendatang di salah satu bangsa Eropa sebagai akibat dari menajamnya
perjuangan kelas secara ekstrim. Kita tidak akan mencoba membangun
asumsi-asumsi mengenai bangsa Eropa mana yang pertama akan mengambil jalan revolusi.
Satu hal yang tidak bisa diragukan, yakni bahwa kontradiksi-kontradiksi kelas
di semua negeri-negeri Eropa belakangan ini telah mencapai tingkat intensitas
yang sangat tinggi.
Pertumbuhan Sosial
Demokrasi di Jerman yang luar biasa, di dalam kerangka konstitusi yang
semi-absolutisme, akan menyebabkan sebuah konflik terbuka antara kaum proletar
dengan monarki feodal-borjuis. Dalam satu tahun belakangan ini, masalah melawan
kudeta politik dengan pemogokan umum telah menjadi salah satu pertanyaan utama
di dalam kehidupan politik kaum proletar Jerman. Di Prancis, transisi kekuasaan
ke tangan kaum Radikal (partai borjuis liberal – Ed.) telah membuka tali
pengikat tangan kaum proletar, yang dulunya terikat oleh kerjasamanya dengan
partai-partai borjuis dalam perjuangan melawan nasionalisme dan kekuasaan
gereja. Partai Sosialis, yang kaya dengan tradisi empat revolusi yang tidak
pernah padam, dan kaum borjuasi konservatif, yang bersembunyi di balik topeng
Radikalisme, sekarang saling berhadap-hadapan. Di Inggris, dimana selama satu
abad, kedua partai borjuis (Partai Konservatif dan Partai Liberal – Ed.) telah
bergantian menguasai parlemen, kaum proletar di bawah pengaruh berbagai macam
faktor baru saja mengambil jalan perceraian politik. Sedangkan di Jerman proses
ini berlangsung selama 4 dekade, kelas buruh Inggris, yang memiliki
serikat-serikat buruh yang kuat dan kaya dengan pengalaman perjuangan ekonomi,
dengan beberapa loncatan dapat memimpin pasukan sosialisme benua Eropa.
Pengaruh Revolusi Rusia
pada kaum proletar Eropa sangatlah besar. Selain menghancurkan absolutisme
Rusia, yang merupakan kekuatan reaksioner utama di Eropa, revolusi ini akan
menciptakan syarat-syarat yang dibutuhkan untuk revolusi di dalam kesadaran dan
karakter kelas buruh Eropa.
Fungsi partai-partai
sosialis adalah untuk merevolusionerkan kesadaran kelas buruh, seperti halnya
perkembangan kapitalisme merevolusionerkan relasi-relasi sosial. Tetapi kerja
agitasi dan pengorganisiran di antara kaum proletar memiliki inersia internal.
Partai-partai Sosialis Eropa, terutama yang paling besar yakni Partai Sosial
Demokrat Jerman, telah menjadi semakin konservatif seiring dengan semakin
eratnya massa merangkul sosialisme dan semakin massa ini terorganisir dan
disiplin. Sebagai akibatnya, Sosial Demokrasi sebagai organisasi yang
mengejawantahkan pengalaman politik kaum proletar dapat pada satu ketika
menjadi rintangan bagi konflik terbuka antara kaum buruh dan borjuasi. Dalam
kata lain, konservatisme propagandis-sosialis dari partai-partai proletar dapat
pada satu ketika menghalangi perjuangan kaum proletar untuk merebut kekuasaan.
Pengaruh Revolusi Rusia yang luar biasa ini mengindikasikan bahwa ia akan
menghancurkan rutinitas dan konservatisme partai, dan mendorong ke depan
konflik terbuka antara kelas proletar dan kelas borjuasi reaksioner. Perjuangan
untuk pemilu universal di Austria, Saxony, dan Prussia telah menjadi akut di
bawah pengaruh langsung pemogokan-pemogokan Oktober di Rusia. Revolusi di Timur
akan menulari kaum proletar Barat dengan sebuah idealisme revolusioner dan
membangkitkan hasrat untuk berbicara kepada musuhnya dengan ‘bahasa Rusia’.
Bila kaum proletar Rusia menemui dirinya berada di dalam kekuasaan, bila hanya
sebagai akibat dari sebuah kombinasi situasi-situasi yang sementara di dalam
revolusi borjuis kita, mereka akan menghadapi serangan terorganisir dari kaum
reaksioner sedunia. Di pihak lain, mereka akan menemui kesiapan kaum proletar
sedunia untuk memberikannya dukungan yang terorganisir.
Terisolasi dengan
sumberdayanya sendiri, kelas buruh Rusia pasti akan diremukkan oleh
kontra-revolusi ketika kaum tani meninggalkan mereka. Mereka tidak punya
pilihan lain selain menghubungkan nasib kekuasaan politiknya dan nasib seluruh
Revolusi Rusia dengan nasib revolusi sosialis di Eropa. Dengan kekuatan
politik-negara yang luar biasa, yang diperolehnya karena kombinasi
kondisi-kondisi sementara di dalam revolusi borjuis Rusia, ia akan mengubah
perimbangan perjuangan kelas di seluruh dunia kapitalis. Dengan kekuasaan
negara di tangannya, dengan kekuatan kontra-revolusi di belakangnya dan
kekuatan reaksioner Eropa di mukanya, kelas buruh Rusia akan mengirim sebuah
pekik perjuangan yang tua kepada kamerad-kameradnya di seluruh dunia, yang
sekarang akan menjadi sebuah seruan untuk serangan yang terakhir: Buruh
Sedunia, Bersatulah!
Catatan
[1] Perpetual
Motion (gerak-kekal) adalah sebuah konsep utopis dimana sebuah benda
dapat bergerak selamanya, dimana konsep ini melanggar hukum konservasi energi.
[2] Baca
kata pengantar saya untuk Address To The Jury oleh F.
Lassalle, diterbitkan oleh Molot – L.T.
[4] Kabinet
Oktober yang dimaksud disini adalah pemerintahan Tsar Rusia yang melahirkan
Manifesto Oktober yang diproklamirkan karena tekanan dari Revolusi 1905.
Manifesto Oktober ini diproklamirkan pada 17 Oktober 1905, dan menjamin dan
meluaskan kebebasan demokrasi rakyat Rusia.
[5] Duma
adalah bahasa Rusia untuk dewan munisipal di bawah pemerintahan Tsar, yang
dbentuk pada 1905.
[6] Ignacy
Daszynski (1866-1936) adalah seorang politisi Polandia, dan pemimpin dari
Partai Sosialis Polandia. Dia adalah seorang anti-Bolshevik.
[7] Perang
Franco-Prussia adalah perang yang berlangsung dari 1870 hingga 1871 yang
menelan korban sekitar 250 ribu jiwa. Prancis kalah di dalam peperangan ini,
dan kemarahan akibat perang ini membuat kaum pekerja Prancis berang, terutama
karena merekalah korban dari perang ini dan dipaksa membayar ganti-rugi perang
kepada Prussia. Ini memercikkan Revolusi Komune Paris 1871
[8] Napoleon
III (1808-1873) atau dikenal juga sebagai Louis Napoleon Bonaparte adalah
keponakan dari Napoleon I. Dia adalah presiden dari Republik Kedua Prancis
(1848-1852), setelah Revolusi Prancis 1848, lalu Kaisar dari Kerajaan Prancis
Kedua (1852-1870) setelah dia meluncurkan kudeta yang menghancurkan Revolusi
Prancis 1848. Marx menulis banyak mengenai dia, dalam karyanya Eighteenth
Brumaire of Louis Bonaparte mengenai Revolusi Prancis 1848, dan
lalu Civil War and France mengenai perang Franco-Prussia dan
Komune Paris yang menyusulinya.
[10] Perang
Boer (1899-1902) adalah perang yang terjadi di Afrika Selatan, antara
negeri-negeri di Afrika Selatan (South African Republic dan Orange Free State)
dengan negeri imperialis Inggris. Kaum Boer adalah orang-orang keturunan Eropa
di Afrika Selatan yang berimigrasi sejak abad ke-17 dan lalu membentuk
negeri-negeri yang independen. Mereka berjuang untuk mempertahankan negeri
mereka dari Inggris yang ingin menjajah mereka. Kaum Boer kalah dalam
peperangan ini, dan lalu negeri-negeri mereka dianeksasi dan disatukan menjadi
Union of South Africa pada 1910.
[11] Biro
Internasional Sosialis adalah organisasi permanen dari Internasional Kedua.
Biro ini dibentuk pada 1900 di kongres Paris. Sebelum Biro ini terbentuk, tidak
ada infrastruktur organisasi di dalam Internasional Kedua yang sudah eksis
sejak 1889.
[12] Ternyata resolusi ini
tidak efektif. Pada 1914, partai-partai sosial demokrasi Internasional Kedua mendukung
Perang Dunia Kedua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar