Hasil dan Prospek Leon Trotsky (1906)
III. 1789 – 1848 – 1905
Sejarah tidak mengulang
dirinya sendiri. Sebanyak-banyaknya seseorang ingin membandingkan Revolusi
Rusia (1905) dengan Revolusi Prancis 1789, Revolusi Rusia tidak akan pernah
bisa menjadi pengulangan dari Revolusi Prancis. Abad ke-19 tidak berlalu dengan
sia-sia.Tahun 1848 saja sudah
sangat berbeda dari tahun 1789. Dibandingkan dengan Revolusi 1789, Revolusi
Austria dan Prussia[1] mengejutkan kita karena
sapuannya yang kecil. Di satu pihak, mereka terjadi terlalu awal, di pihak yang
lain terlalu telat. Kekuatan besar yang dibutuhkan bagi masyarakat borjuis
untuk menghancurkan para aristokrat hanya bisa dicapai oleh kekuatan
seluruh bangsa dalam melawan
despostime-feodal atau oleh perkembangan perjuangan kelas yang kuat di dalam bangsa ini yang berusaha untuk membebaskan
dirinya. Dalam kasus yang pertama, yang terjadi pada 1789-93, kekuatan bangsa
yang terkompres oleh perlawanan sengit dari orde lama, digunakan seluruhnya
untuk melawan reaksi. Dalam kasus yang kedua, yang belum pernah terjadi di
dalam sejarah, dan yang hanya kita anggap sebagai sebuah kemungkinan, enerji
yang dibutuhkan untuk melawan kekuatan-kekuatan gelap sejarah dihasilkan di
dalam bangsa borjuis melalui perjuangan kelas ‘internal’. Friksi internal yang
hebat ini, yang menghabiskan cukup banyak enerji dan merampas kemungkinan kaum
borjuasi untuk memainkan peran utama, memberikan kaum proletar 10-tahun
pengalaman dalam waktu satu bulan, mendorongnya menjadi pemimpin, dan
memberikannya kekuatan yang terpusatkan. Dengan tekad yang bulat dan tidak
ragu-ragu, kelas ini memberi sebuah dorongan yang hebat ke dalam
peristiwa-peristiwa.Revolusi dapat terjadi
melalui dua cara: oleh sebuah bangsa yang bersatu seperti seekor singa yang
siap menerkam, atau¸ oleh sebuah bangsa yang di dalam proses perjuangannya menjadi
terpecah-pecah guna membebaskan elemen terbaiknya yang akan melaksanakan
tugas-tugas yang tidak mampu dipenuhi oleh seluruh bangsa. Ini adalah dua set
kondisi-kondisi sejarah yang bertentangan, yang di dalam bentuknya yang murni
tentu saja hanya mungkin di dalam kontraposisi yang logis.Dalam kebanyakan kasus,
jalan tengah dari kedua cara ini adalah jalan yang paling parah. Jalan tengah
inilah yang terjadi pada 1848 (baca kegagalan Revolusi Austria dan Prusia –
Ed.)Di dalam periode sejarah
Prancis yang heroik, kita melihat sebuah kelas borjuasi, yang tercerahkan, yang
aktif, yang belum sadar akan kontradiksi-kontradiksi di dalam posisinya, yang
oleh sejarah dibebankan tugas kepemimpinan perjuangan demi sebuah orde yang
baru, bukan hanya melawan institusi-institusi tua di Prancis tetapi juga
melawan kekuatan-kekuatan reaksioner seluruh Eropa. Dengan konsisten dan di
dalam semua faksinya, kaum borjuasi ini menganggap diri mereka sendiri sebagai
pemimpin bangsa, menyatukan massa ke dalam perjuangan, memberikan mereka
slogan-slogan dan mendikte taktik-taktik perjuangan mereka. Demokrasi mengikat
seluruh bangsa dengan sebuah ideologi politik. Rakyat – yakni kaum borjuasi
kota, kaum tani, dan kaum buruh – memilih kaum borjuasi sebagai perwakilan
mereka, dan instruksi-instruksi yang mereka berikan kepada perwakilan mereka
ini ditulis dengan bahasa kaum borjuasi yang menjadi sadar akan misinya sebagai
pembebas. Selama revolusi ini sendiri, walaupun antagonisme-antagonisme kelas
terkuak, namun inersia perjuangan revolusioner yang besar ini melempar keluar
elemen-elemen borjuasi yang lebih konservatif. Tidak ada strata yang akan
terguling sebelum ia mentransfer enerjinya ke strata yang ada di belakangnya.
Seluruh bangsa lalu melanjutkan perjuangannya dengan metode-metode yang lebih
tajam dan lebih tegas. Ketika lapisan-lapisan atas dari kaum borjuasi kaya
pecah dari gerakan nasional ini dan membentuk aliansi dengan Louis XVI,
tuntutan-tuntutan demokratik bangsa ini ditujukan melawan kaum borjuasi tersebut, dan ini menghasilkan
pemilu universal dan republik sebagai bentuk demokrasi yang logis dan tidak
terelakkan.Revolusi Prancis 1789
memang adalah sebuah revolusi nasional. Dan terlebih lagi, di dalam kerangka
nasional, perjuangan mendunia dari kaum borjuasi untuk meraih dominasi,
kekuasaan, dan kemenangan mutlak menemukan ekspresi klasiknya.Jacobinisme[2] sekarang adalah sebuah
istilah kotor di mulut semua kaum liberal yang sok tahu. Kebencian kaum
borjuasi terhadap revolusi, kebenciannya terhadap rakyat, kebenciannya terhadap
kekuatan dan kemegahan sejarah yang tercipta di jalan-jalan, kebencian ini
terpusatkan di dalam satu pekik kebencian dan rasa takut –Jacobinisme! Kita, pasukan komunis sedunia, sudah sejak
lama menyelesaikan pertentangan historis kita dengan Jacobinisme. Seluruh
gerakan proletar internasional sekarang ini dibentuk dan tumbuh kuat di dalam
perjuangannya melawan tradisi Jacobinisme. Kita mengkritik teori-teorinya, kita
ekspos limit-limit historisnya, kontradiksi-kontradiksi sosialnya, utopismenya,
kita ekspos retorika-retorikanya, dan hancurkan tradisi-tradisi ini, yang
selama puluhan tahun telah dianggap sebagai warisan suci revolusi.Tetapi kita membela
Jacobinisme dari serangan-serangan, fitnah-fitnah dan maki-makian yang dilakukan
oleh liberalisme yang impoten. Dengan sangat memalukan, kaum borjuasi telah
mengkhianati semua tradisi sejarah di saat ia masih muda, dan saat ini
agen-agen bayarannya menginjak-injak kuburan leluhurnya dan mentertawakan
nilai-nilai idealisme leluhurnya. Kaum proletar telah melindungi kehormatan
dari masa-lalu revolusioner kaum borjuasi. Akan tetapi, seradikal apapun kaum
proletar telah putus dari tradisi-tradisi revolusioner kaum borjuasi, mereka
tetap melindungi tradisi-tradisi ini sebagai sebuah warisan suci semangat
perjuangan, kepahlawanan, dan kreatifitas yang agung, dan hatinya berdentum
dengan penuh simpati terhadap pidato-pidato dan aksi-aksi kaum Jacobin.Bukankah liberalisme
mendapatkan pesonanya dari tradisi-tradisi Revolusi Prancis? Bukankah demokrasi
borjuis naik ke tempat yang begitu tinggi dan menebarkan api yang begitu
menggelora di hati rakyat hanya pada saat periode Jacobin, sans-culotte[3], teroris, dan demokrasi Robespierrian[4] tahun 1793? Siapa lagi kalau bukan
Jacobinisme yang memungkinkan kaum borjuasi dari segala aliran untuk memimpin
mayoritas rakyat dan bahkan kaum proletar di bawah pengaruhnya, ketika
radikalisme borjuis di Jerman dan Austria telah menutup sejarahnya yang pendek
dengan aksi-aksi yang memalukan dan mengecewakan? Siapa lagi kalau bukan
Jacobinisme dengan pesonanya, dengan ideologi politiknya yang abstrak, dengan
pemujaannya terhadap Republik yang Suci, dengan deklarasi-deklarasinya yang
megah, yang bahkan sampai sekarang memberi enerji kepada kaum Radikal Prancis[5] dan kaum
sosialis-radikal seperti Clemenceau[6], Millerand[7], Briand[8] dan Bourgeois[9], dan semua politisi-politisi yang tahu
bagaimana mempertahankan sistem borjuis seperti halnya kaum Junker[10]nya Wilhem II[11]? Mereka dicemburui oleh kaum borjuasi
demokrat dari negeri-negeri lain, akan tetapi mereka masih saja menebar fitnah
kepada Jacobinisme, sumber kemasyuran politik mereka.Bahkan setelah banyak
harapan sudah dihancurkan, Jacobinisme tetap tinggal di dalam ingatan rakyat
sebagai sebuah tradisi. Puluhan tahun lamanya, kaum proletar masih berbicara
mengenai masa depannya dengan bahasa masa lalu. Pada 1840, hampir setengah abad
setelah pemerintahan ‘La Montagne’[12], 8 tahun sebelum Hari-Hari Juni 1848,
Heine[13] mengunjungi beberapa
seminar di faubourg (sub-urban) Saint-Marceau dan menyaksikan para buruh, ‘seksi kelas
bawah yang paling bersuara’, sedang membaca. Dalam artikelnya di sebuah
suratkabar Jerman, Heine menulis, “Saya menemukan di sana beberapa pidato
Robespierre dan juga pamflet-pamflet karangan Marat[14] dalam dua edisi; “History of the Revolution”oleh Cabet[15]; tulisan-tulisan Cormenin[16] yang tajam; karya-karya
Buonarroti[17]; “The Teachings and Conspiracy of Babeuf”[18]; semua karya-karya yang berbau darah …”,
lalu penyair ini meramalkan, “ … sebagai salah satu buah dari benih ini, cepat
atau lambat sebuah republik akan lahir di Prancis.”Pada 1848, kaum borjuasi
sudah tidak mampu lagi memainkan peran yang sama. Mereka tidak ingin dan tidak
mampu melaksanakan likuidasi revolusioner terhadap sistem sosial yang
menghadang jalan mereka ke kekuasaan. Kita tahu mengapa. Tujuan kaum borjuasi adalah – dan mereka
sepenuhnya sadar akan tujuan ini – untuk memasukkan ke dalam rejim lama ini
kebijakan-kebijakan penjamin yang diperlukan bukan untuk dominasi politik
mereka tetapi hanya untuk berbagi kekuasaan dengan kekuatan-kekuatan rejim
lama. Mereka menjadi bijak karena pengalaman kaum borjuasi Prancis, yang
menjadi korup karena pengkhianatan mereka dan menjadi takut akan kegagalan
mereka. Mereka bukan hanya gagal memimpin massa menghancurkan orde yang lama,
tetapi mendukung orde lama ini guna mendorong ke belakang massa yang maju ke
depan.Kaum borjuasi Prancis
berhasil menyelesaikan Revolusi Prancis 1789. Saat itu, kesadarannya adalah
kesadaran masyarakat, dan tidak ada institusi yang bisa terbentuk tanpa pertama
kali melewati kesadarannya sebagai tujuannya, sebagai masalah pembentukan
politik. Sering kali mereka menggunakan pose-pose teatrikal guna menyembunyikan
diri mereka dari batasan-batasan dunia borjuis mereka – tetapi mereka tetap
melangkah maju.Akan tetapi, kaum
borjuasi Jerman, dari awalnya, tidak ‘menciptakan’ revolusi, tetapi memisahkan
diri mereka dari revolusi. Kesadaran mereka bertentangan dengan kondisi-kondisi
objektif untuk dominasi mereka. Revolusi hanya bisa dilaksanakan bukan oleh
mereka tetapi untuk melawan mereka. Di dalam pikirannya, institusi-institusi
demokrasi bukanlah tujuan untuk diperjuangkan, tetapi merupakan halangan bagi
kemakmuran mereka.Pada 1848, sebuah kelas
dibutuhkan, sebuah kelas yang mampu mengambil tampuk kepemimpinan gerakan tanpa
keberadaan kaum borjuasi, sebuah kelas yang bukan hanya mampu mendorong maju
kaum borjuasi tetapi juga mampu menyingkirkan mayat politik kaum borjuasi pada
saat-saat yang menentukan. Kaum borjuasi kecil kota dan kaum tani tidak mampu
melakukan hal ini.Kaum borjuasi kecil perkotaan membenci rejim masa lalu dan juga rejim masa
depan. Masih terikat oleh relasi Zaman Pertengahan, tetapi sudah tidak mampu
berdiri melawan industri ‘bebas’; masih berpengaruh di kota-kota, tetapi sudah
tidak mampu melawan kaum borjuasi menengah dan besar; penuh dengan prasangka,
tuli karena gemuruh peristiwa, tertindas dan menindas, serakah tetapi tidak
mampu memenuhi keserakahannya; kaum borjuasi kecil tidak mampu mengendalikan
jalannya peristiwa-peristiwa besar bila ditinggal sendirian.Kaum tani bahkan lebih tidak
memiliki inisiatif politik yang mandiri. Dirantai selama berabad-abad, miskin,
penuh kemarahan, menyatukan semua bentuk penindasan yang lama dan baru di
dalamnya, kaum tani pada suatu saat tertentu dapat menjadi sumber kekuatan
revolusioner yang besar. Akan tetapi, tidak terorganisir, tercerai-berai,
terisolasi dari kota yang merupakan nadi utama dari politik dan kebudayaan,
bodoh, wawasannya terbatas pada desa-desa mereka sendiri, tidak peduli pada apa
yang sedang dipikirkan oleh orang-orang kota, kaum tani tidak bisa menjadi
kekuatan pemimpin. Kaum tani segera menjadi jinak setelah punggungnya telah
dibebaskan dari beban feodalisme, dan menunjukkan rasa tidak berterimakasih
kepada kota-kota yang telah berjuang demi hak-hak mereka. Kaum tani yang
terbebaskan menjadi fanatik ‘orde lama’.Kaum intelektual demokrat tidak memiliki kekuatan kelas. Pada satu waktu kelompok ini
mengekori saudara tuanya, kaum borjuasi liberal, pada waktu yang lain mereka
meninggalkan kaum borjuasi liberal di saat yang kritikal guna mengekspos
kelemahan mereka. Mereka membingungkan diri mereka sendiri dengan
kontradiksi-kontradiksi yang tidak bisa diselesaikan, dan membawa kebingungan
ini kemana saja mereka pergi.Kaum proletar terlalu lemah, tidak
memiliki organisasi, pengalaman, dan pengetahuan. Kapitalisme telah cukup
berkembang sehingga membuat penghapusan relasi-relasi feodal sebagai suatu hal
yang harus dilakukan, tetapi pada pihak yang lain kapitalisme belumlah cukup
berkembang untuk membuat kelas buruh – yang merupakan produk dari relasi-relasi
industri yang baru – sebagai sebuah kekuatan politik yang menentukan.
Antagonisme antara proletar dan borjuasi, bahkan di dalam kerangka nasional
Jerman, sudah menjadi terlalu besar sehingga kaum borjuasi tidak berani
mengambil peran hegemoni nasional, tetapi tidak cukup bagi kaum proletar untuk
mengambil peran tersebut. Benar kalau friksi internal revolusi mempersiapkan
kaum proletar untuk kemandirian politik, tetapi pada saat yang sama friksi
internal ini menghabiskan enerji dan melemahkan persatuan, menyebabkan
penghabisan enerji yang sia-sia, dan memaksa revolusi – setelah keberhasilan
awalnya – untuk tertunda lama dan kemudian mundur di bawah pukulan-pukulan
reaksioner.Revolusi Austria
merupakan satu contoh yang jelas dan tragis dari karakter relasi-relasi politik
yang tidak-matang dan tidak-selesai di dalam periode revolusi.Kaum proletar Vienna pada 1848 menunjukkan kepahlawanan yang hebat dan enerji yang
besar. Lagi dan lagi mereka terjun ke medan perang, hanya didorong oleh naluri
kelas yang buram, tidak memiliki sebuah gambaran umum akan tujuan-tujuan
perjuangan mereka, dan mengubah satu slogan ke slogan yang lain dengan
meraba-raba di dalam kegelapan. Cukup luar biasa, kepemimpinan proletar jatuh
di tangan kaum pelajar, satu-satunya kelompok demokratik aktif, yang memiliki pengaruh yang besar
terhadap massa karena aktivitas mereka, dan oleh karena itu mereka juga
memiliki pengaruh yang besar terhadap jalannya peristiwa-peristiwa. Tidak
diragukan kalau para pelajar mampu berjuang dengan berani di barikade-barikade
dan bergaul dengan para buruh, tetapi mereka sama sekali tidak mampu memberikan
arah kepada jalannya revolusi yang telah memberikan mereka ‘kediktatoran’ di
jalanan.Kaum proletar, tidak
terorganisir, tanpa pengalaman politik dan kepemimpinan yang mandiri, mengikuti
para pelajar. Pada setiap momen yang kritikal, para buruh menawarkan ‘tuan-tuan
yang bekerja dengan kepala mereka’ bantuan dari ‘mereka yang bekerja dengan
tangan mereka’. Pada satu saat para pelajar memanggil para buruh untuk
berjuang, dan pada saat yang lain para pelajar menghalangi para buruh dari
sub-urban untuk pergi ke kota. Kadang-kadang, dengan menggunakan otoritas
politik mereka dan mengandalkan senjatanya Academic Legion, para pelajar melarang para buruh untuk
memajukan tuntutan-tuntutan mandiri mereka sendiri. Ini jelas-jelas adalah
bentuk klasik kediktatoran revolusioner yang baik-hati terhadap kaum proletar. Apakah hasil dari relasi-relasi
sosial ini? Nah ini: ketika pada 26 Mei, semua kaum buruh Vienna, yang
dipanggil oleh para pelajar, bergerak untuk menentang pelucutan senjata para
pelajar (Academic Legion); ketika seluruh populasi ibukota yang membangun
barikade-barikade di seluruh penjuru kota menunjukkan kekuatan yang besar dan
mengambil alih kota Vienna; ketika seluruh Austria mendukung mempersenjatai
rakyat Vienna; ketika monarki sudah kabur dan tidak punya pengaruh lagi; ketika
semua tentara telah ditarik keluar dari ibukota karena tekanan dari rakyat;
ketika pemerintahan Austria mengundurkan diri tanpa menunjuk penggantinya –
tidak ada kekuatan politik yang dapat mengambil tampuk kepemimpinan.Kaum borjuasi liberal sengaja menolak mengambil kekuasaan yang telah ditundukkan dengan
cara yang liar; mereka hanya memimpikan kembalinya sang Raja yang telah lari ke
Tyrol[19].Kaum buruh memiliki cukup
keberanian untuk mengalahkan kekuatan reaksioner,tetapi tidak cukup
terorganisir dan sadar untuk menggantikan mereka. Sebuah gerakan buruh yang kuat
eksis, tetapi perjuangan kelas proletar dengan sebuah tujuan politik yang tegas
belumlah cukup berkembang. Kaum proletar, yang tidak mampu mengambil
kepemimpinan, tidak mampu menyelesaikan tugas historis ini. Dan kaum demokrat
borjuis, seperti yang sering terjadi, diam-diam kabur pada saat yang sangat
menentukan.Untuk memaksa para
desertir (pembelot) ini supaya mereka memenuhi kewajiban-kewajibannya
mengharuskan kaum proletar untuk memiliki enerji dan kedewasaan seperti yang
dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan buruh sementara.Sebagai konsekuensinya,
kita menyaksikan sebuah situasi yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
“Republik telah terbentuk di Vienna, tetapi sayangnya tidak ada seorangpun yang
sadar akan hal ini.” Republik yang tidak disadari oleh siapapun ini telah lama
hilang dari arena, digantikan oleh Habsburg[20] … Sebuah kesempatan yang
sekali hilang tidak akan kembali lagi.Dari pengalaman revolusi
Hungaria dan Jerman, Lassalle[21] menyimpulkan bahwa mulai
dari sekarang revolusi hanya dapat mengandalkan perjuangan kelas kaum proletar.
Di dalam suratnya kepada Marx tertanggal 24 Oktober 1849, Lassalle menulis:
“Hungaria memiliki lebih banyak kesempatan daripada negeri-negeri lainnya untuk
berhasil di dalam perjuangannya. Salah satu penyebabnya adalah karena
partai-partai di negeri ini tidaklah terpecah-berai dan bertengkar seperti
halnya di Eropa Barat; karena revolusi ini mengambil bentuk perjuangan
pembebasan nasional. Akan tetapi, Revolusi Hungaria kalah, dan justru karena
pengkhianatan partai nasional.”“Ini, dan sejarah Jerman
selama 1848-1849,” lanjut Lassalle, “membawa saya ke kesimpulan bahwa tidak ada
revolusi yang akan berhasil di Eropa kecuali bila revolusi tersebut dari
awalnya diproklamirkan sebagai sungguh-sungguh sosialis. Tidak ada perjuangan
yang akan berhasil bila masalah-masalah sosial masuk ke dalamnya hanya sebagai
semacam elemen yang buram dan hanya menjadi latarbelakang, dan bila perjuangan
tersebut dilaksanakan di bawah panji regenerasi nasional atau republikanisme
borjuis.”Kita tidak akan berhenti
untuk mengkritik kesimpulan-kesimpulan di atas yang sangat tegas. Akan tetapi,
sungguh benar kalau pada pertengahan abad ke-19 masalah emansipasi politik
sudah tidak bisa diselesaikan oleh perjuangan seluruh bangsa. Hanya
taktik-taktik independen kelas proletar, yang dari posisi kelasnya menghimpun
kekuatan untuk berjuang, dan hanya dari posisi kelasnya, dapat memastikan
kemenangan mutlak bagi revolusi.Kelas buruh Rusia tahun
1906 tidaklah serupa sama sekali dengan kelas buruh Vienna tahun 1848. Bukti
terbaik untuk hal ini adalah lahirnya Soviet Deputi Buruh di seluruh Rusia. Ini
bukanlah organisasi konspirasi yang terbentuk-sebelumnya guna merebut kekuasaan
pada saat pemberontakan. Bukan. Ini adalah organ-organ yang diciptakan oleh
massa secara terencana untuk mengkoordinasi perjuangan revolusioner mereka. Dan
Soviet-Soviet ini, dipilih oleh rakyat dan bertanggungjawab kepada rakyat,
adalah institusi yang benar-benar demokratis, yang melaksanakan kebijakan kelas
proletar dalam semangat sosialisme revolusioner.Keunikan-keunikan sosial
Revolusi Rusia sangatlah nyata dalam masalah mempersenjatai bangsa. Sebuah
milisi, Tentara Nasional, adalah tuntutan pertama dan pencapaian pertama dari
setiap revolusi, 1789 dan 1848, di Paris, di setiap negara bagian Italia, di
Vienna, dan di Berlin. Pada 1848, Tentara Nasional – yakni penyenjataan
kelas-kelas pemilik dan ‘terdidik’ – adalah tuntutan seluruh kaum oposisi
borjuis, bahkan elemen yang paling moderat. Dan tujuannya adalah bukan hanya
untuk melindungi kebebasan-kebebasan yang telah mereka capai dan melawan
restorasi dari atas, tetapi juga untuk melindungi hak kepemilikan kaum borjuasi
dari serangan kaum proletar. Oleh karena itu, tuntutan pembentukan milisi
adalah tuntutan kelas kaum borjuasi. Seorang ahli sejarah Italia dari Inggris
menulis, “Orang Italia sangatlah mengerti bahwa milisi sipil yang bersenjata
akan membuat keberlangsungan despotisme mustahil. Selain itu, ini adalah
jaminan bagi kelas-kelas pemilik-properti untuk mencegah kemungkinan anarki dan
gangguan apapun dari bawah.”[22] Dan kaum penguasa yang
reaksioner, karena tidak memiliki tentara yang cukup untuk mengatasi ‘anarki’
dari massa revolusioner, lalu mempersenjatai kaum borjuasi. Absolutisme
pertama-tama mengijinkan para pedagang untuk menindas dan menghancurkan kaum
buruh, lalu ia melucuti dan menghancurkan para pedagang ini.Di Rusia, tuntutan
pembentukan milisi tidak mendapatkan dukungan dari partai-partai borjuis. Kaum
liberal tidak mampu memahami pentingnya mempersenjatai diri; absolutisme telah
memberikan mereka sedikit pelajaran-langsung mengenai ini. Tetapi kaum liberal
Rusia juga mengerti bahwa adalah tidak mungkin untuk membentuk sebuah milisi
tanpa kelas proletar atau untuk melawan kelas proletar. Buruh Rusia sama sekali
tidak serupa dengan buruh Prancis tahun 1848 yang memenuhi kantong mereka
dengan batu-batu dan mempersenjatai diri mereka dengan cangkul, sedangkan para
penjaga toko, para pelajar, dan para pengacara memanggul senapan di pundaknya
dan pedang di pinggangnya.Mempersenjatai revolusi
di Rusia berarti mempersenjatai buruh. Memahami dan takut akan hal tersebut,
kaum liberal menolak mentah-mentah gagasan pembentukan milisi. Mereka bahkan
menyerah kepada absolutisme tanpa perlawanan seperti halnya kaum borjuasi
Thiers[23] menyerahkan Paris dan
Prancis kepada Bismarck[24]guna menghindari memberikan senjata
kepada para buruh.Di dalam manifesto
koalisi liberal-demokrat, sebuah simposium yang menamakan dirinya “The Constitutional State”, Tuan Dzhivelegov, dalam mendiskusikan
kemungkinan revolusi, cukup tepat dalam mengatakan bahwa “masyarakat, dalam
momen yang menentukan, harus siap untuk berdiri membela Konstitusinya.” Tetapi
karena kesimpulan logis dari ujaran ini adalah tuntutan untuk mempersenjatai
rakyat, filsuf liberal ini merasa “perlu untuk menambahkan” bahwa “tidaklah
perlu bagi semua orang untuk memanggul senjata”[25] guna membela konstitusi.
Masyarakat hanya perlu menyiapkan diri untuk melawan – bagaimana caranya tidak
diusulkan sama sekali. Hanya ada satu kesimpulan yang bisa ditarik dari ini,
yakni bahwa di dalam hati kaum demokrat kita terdapat sebuah rasa takut
terhadap kaum proletar yang tersenjatai yang lebih besar daripada rasa takut
terhadap tentara otokrasi.Oleh karena itu, tugas
mempersenjatai revolusi sepenuhnya jatuh di pundak kaum proletar. Di Rusia,
tuntutan pembentukan milisi sipil – yang merupakan tuntutan kelas kaum borjuasi
pada 1848 – sejak awal merupakan tuntutan untuk mempersenjatai rakyat dan yang
terutama untuk mempersenjatai kaum proletar. Nasib Revolusi Rusia tergantung
pada permasalahan ini.
Catatan
[1] Dari
Maret 1848 sampai Juli 1849, seluruh kerajaan Austria dan Prusia diselemuti
oleh gerakan-gerakan revolusioner. Pada akhirnya, revolusi-revolusi tersebut
gagal karena pengkhianatan kaum borjuasi.
[2] Jacobin
adalah sebuah kelompok yang memimpin revolusi borjuis Perancis pada 1789-93.
Ungkapan tersebut sekarang digunakan mengacu pada tradisi perjuangan radikal
demokratik-revolusioner dari gerakan demokratik borjuis melawan tirani.
[3] Kaum
sans-culotte (dari Bahasa Prancis yang berarti ‘tanpa celana-lutut’) adalah
kaum revolusioner pada Revolusi Prancis 1789, yang mengacu pada rakyat pekerja
Prancis. Mereka mengenakan celana panjang yang menutupi sampai pergelangan
kaki, berbeda dengan celana-lutut yang menutupi hingga tulang kering saja yang
saat itu lebih umum di antara kaum berpunya di Prancis.
[4] Maximilien
Robespierre (1758-1795) adalah salah satu tokoh ternama dalam Revolusi Prancis,
dan ia adalah anggota Jacobin.
[5] Partai
Radikal Prancis adalah sebuah partai borjuis liberal yang dibentuk pada 1901.
[6] Georges
Benjamin Clemenceau (1841-1929) adalah politisi Prancis yang menjabat sebagai
perdana mentri Prancis pada 1906-1909 dan 1917-1920.
[7] Alexandre
Millerand (1859-1943) adalah seorang politisi sosialis Prancis yang menjadi
Presiden Prancis dari 1920-1924. Dia adalah anggota Partai Sosialis Prancis
yang mendukung Perang Dunia Pertama.
[8] Aristide
Briand (1862-1932) menjabat sebagai Perdana Menteri Prancis 6 kali dalam kurun
waktu 1913-1929, dia adalah anggota Partai Sosialis Prancis.
[9] Leon
Bourgeois (1851-1925) adalah politis Prancis yang menjadi Perdana Menteri pada
1895-1896. Setelah Perang Dunia Pertama, dia lalu menjadi Presiden dewan Liga
Bangsa-Bangsa dan memenangkan hadiah Nobel perdamaian pada 1920.
[10] Junker
adalah istilah Jerman untuk kaum bangsawan pemilik tanah di Prusia dan Jerman
bagian timur.
[11] Wilhem
II (1859-1941) adalah Kaisar Jerman yang terakhir, yang memerintah Kerajaan
Jerman dan Prusia dari 1888 hingga 1918, dimana kerajaan dia ditumbangkan oleh
Revolusi Jerman.
[12] La
Montagne atau dikenal juga sebagai Montagnard adalah sekelompok kaum Jacobin
yang memimpin parlemen Prancis selama Revolusi Prancis 1789.
[13] Christian
Johann Heinrich Heine (1797-1856) adalah seorang jurnalis dan salah satu
penyair yang terkemuka.
[14] Jean-Paul
Marat (1743-1793) adalah ahli teori politik dari Prancis. Dia dikenal sebagai
seorang jurnalis dan politisi yang radikal dari Revolusi Prancis, dan salah
satu tokoh paling berpengaruh di dalam Revolusi Prancis.
[15] Étienne
Cabet (1788-1856) adalah filsuf Prancis dan kaum sosialis utopis. Dia adalah
pendiri Gerakan Icarian, dimana dia dan pengikutnya pindah ke Amerika untuk
membentuk komune-komune egaliter.
[16] Cormenin
(1788-1868) adalah penulis politik dari Prancis.
[17] Philippe
Buonarroti (1761-1837) adalah kaum sosialis utopis yang dilahirkan di Italia.
Dia bergabung dengan Jacobin.
[18] François-Noël
Babeuf (1760-1797) adalah seorang radikal dan anggota Jacobin. “Masyarakat
harus dibuat sedemikian rupa sehingga nafsu manusia untuk menjadi lebih kaya,
lebih bijak, dan lebih berkuasa daripada orang lain akan lenyap untuk
selama-lamanya” – Babeuf.
[19] Tyrol
adalah sebuah wilayah di Eropa Barat Tengah, yang meliputi negara Austria.
[20] Habsburg
adalah keluarga feodal di Eropa yang berasal dari Swiss, ditemukan sekitar
1100. Keluarga ini memegang tahta di Kerajaan Romawi, Spanyol, dan Austria.
[21] Ferdinand
Lassalle (1825-1864) adalah seorang sosialis dari Jerman. Lassalle ikut serta
di dalam Revolusi 1848 di Jerman. Dia adalah anggota Liga Komunis bersama-sama
dengan Marx dan Engels, walaupun Marx dan Engels berpendapat bahwa dia bukanlah
seorang komunis yang sejati.
[22] Bolton
King, “History of Italian Unity”, terjemahan Rusia, Moskow, 1901, vol.
1, hal. 220 – L.T.
[23] Louis-Adolphe
Thiers (1797-1877) adalah seorang politisi dan ahli sejarah Prancis. Dia
menjabat sebagai Perdana Menteri di bawah Raja Louis-Philippe pada 1836-1839.
[24] Otto
von Bismarck (1815-1898) adalah seorang politisi terkemuka dari Prusia dan
Jerman. Dia adalah Kanselir pertama dari Kekaisaran Jerman, pada 1871-1890.
[25] “The Constitutional State”, sebuah
simposium, edisi pertama, hal. 49 – L.T.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar