Rabu, 27 Mei 2015

Pemimpin Layak "Idola Ummat"



Hari ini kita lihat, rasakan dan kita jadikan tontonan semakin ramai orang berlomba-lomba mengejar jabatan, berebut kedudukan sehingga menjadikannya sebagai sebuah obsesi hidup. Menurut mereka yang menganut paham atau prinsip ini, tidak lengkap rasanya selagi hayat dikandung badan, kalau tidak pernah (meski sekali) menjadi orang penting, dihormati dan dihargai masyarakat.
Jabatan baik formal maupun informal di negeri kita Indonesia dipandang sebagai sebuah "aset", karena ia baik langsung maupun tidak langsung berkonsekwensi kepada keuntungan, kelebihan, kemudahan, kesenangan, dan setumpuk keistimewaan lainnya. Maka tidaklah heran menjadi kepala daerah, gubernur, bupati, walikota, anggota dewan, direktur dan sebagainya merupakan impian dan obsesi semua orang. Mulai dari kalangan politikus, purnawirawan, birokrat, saudagar, tokoh masyarakat, bahkan sampai kepada artis.
Semua berebut mengejar jabatan tanpa mengetahui siapa sebenarnya dirinya, bagaimana kemampuannya, dan layakkah dirinya memegang jabatan (kepemimpinan) tersebut. Parahnya lagi, mereka kurang (tidak) memiliki pemahaman yang benar tentang hakikat kepemimpinan itu sendiri. Karena menganggap jabatan adalah keistimewaan, fasilitas, kewenangan tanpa batas, kebanggaan dan popularitas. Padahal jabatan adalah tanggung jawab, pengorbanan, pelayanan, dan keteladanan yang dilihat dan dinilai banyak orang.
Hakikat kepemimpinan Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin.
Dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt. Lihat Q. S. Al-Baqarah (2): 124, "Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia. Ibrahim bertanya: Dan dari keturunanku juga (dijadikan pemimpin)? Allah swt menjawab: Janji (amanat)Ku ini tidak (berhak) diperoleh orang zalim".
C.N. Cooley (1902). Pemimpin itu selalu merupakan titik pusat dari suatu kecenderungan, dan pada kesempatan lain, semua gerakan sosial kalau diamati secara cermat akan ditemukan kecenderungan yang memiliki titik pusat.
Henry Pratt Faiechild dalam Kartini Kartono (1994: 33). Pemimpin dalam pengertian ialah seseorang yang dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan dan posisi. Dalam pengertian yang terbatas, pemimpin ialah seorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan ekseptansi/penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.
Miftha Thoha dalam bukunya Prilaku Organisasi (1983: 255). Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya.
Kartini Kartono (1994 : 33). Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.

Perwatin adalah para Penyimbang adat/dewan adat/tokoh adat/tuha khaja/pimpinan adat (subyek). Sebagai perwatin adat memiliki hak dan kewajiban memimpin segala aktivitas Pemerintaan Adat atau urusan yang berhubungan langsung dengan hippun/peppung (musyawarah) adat. Sebagai penyimbang adat berkewajiban untuk membina dan menjaga stabilitas pemerintahan adat kerukunan warga adat yang dipimpinnya.
Setelah kita memahami Arti “Pemimpin” kita harus sadar diri, siapa kita, dimana kita dan harus bagaimana kita dan tidak harus Memaksakan harus menjadi “peemimpin.
Bicara pemimpin tidak lama lagi kita akan memilih pemimpin kita di daerah masing masing, seperti Lampung akan melaksanakan Pemilukada di 8 kabupaten/ kota termasuk Pesisir Barat yang akan di gelar 9 Desember 2015 nanti. Kita sudah menyaksikan syahwat politik hari ini bagaimana mereka berebut dan cenderung memaksakan diri lalu saling menyalahakan.
Pemimpin adalah sosok panutan di wilayahnya sendiri bisa kita belajar dari kisah Abu Bakar sahabat rosulalloh yang selalu mencerminkan sifat yang terpuji dan fasih dalam berbicara dan tetap mengedepankan sopan santun terutama kepada yang lebih tua, berbudi pekerti luhur, rasa kasih sayang, suka menepati janji, dan memegang amanah, dermawan, tidak memiliki rasa benci dan dendam. Kerendahan hati Abu Bakar ditunjukkan ketika beliau dipilih sebagai khalifah. Beliau mengatakan kalau masih ada yang lebih patut dari pada dia dan dia mengatakan. "Aku menjadi penguasa atas kalian padahal aku berlaku baik bantulah aku, jika tidak maka berilah aku tuntunan. Taatilah aku selama aku menaati Allah, kalau tidak, kalian tak perlu menaati aku. Beliau juga melihat dari sisi kekuasaannya bukanlah kekuasaan yang mutlak, tetapi kekuasaan yang melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad saw. dan dengan kepemimpinan Abu Bakar, rakyat hidup makmur, dan Islam menyebar di seluruh jazirah Arab.
Mungkin saja kita tidak harus serupa persis dengan Abu Bakar setidaknya kita paham dan berusahan mengikuti jejak beliau, bukan hanya mengikuti hawa napsu yang tidak dapat di minimalisir sehingga menghalalkan semua cara.
Kita tahu bahwa Pesisir Barat mencoba mencari pemimpinnya untuk pertamakalinya dari situlah kita berupaya bersama-sama dalam menciptakan pemimpin yang layak kita jadikan imam bahkan bisa menjadi contoh daerah lainnya di Lampung bahkan di negeri Ini Indonesia. Kita harus memulainya dari hal kecil, layaknya kita terlahir menjadi bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan seterusnya. Dari sinilah saya berpesan kepada kita semua agar bersama-sama membangun dan saling mengingatkan. terimakasih